PROGRES KERENDAHAN HATI

Firman Tuhan : Efesus 3: 1-8
Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, (Efesus 3:8)
Suatu kali PMK fakultas bergengsi di sebuah PTN meminta saya dan rekan hamba Tuhan menjadi pembicara kunci retreat. Saya berbicara visi misi mahasiswa dan rekan tersebut eksposisi kitab PL. Sebulan sebelumnya panitia sangat intens meminta makalah untuk digandakan bagi peserta. Ketika acara berlangsung tibatiba panitia dengan sungkan dan gugup menyampaikan bahwa sesi kami berdua dipangkas menjadi 1 jam saja tanpa tanya jawab, karena ada alumni yang akan memberikan wejangan penting. Kami berdua maklum dan tersenyum kecut saling berbisik, “Ya kan hamba Tuhan…sepatutnya mengalah, toh makalah kita sudah di tangan peserta…” Di situ kami sebagai narasumber harus belajar rendah hati demi kelancaran acara.
Dalam kitab Efesus ini rasul Paulus makin matang dalam pelayanan. Jangkauan pelayanannya makin luas dan Tuhan mempercayakan banyak murid sebagai tim pelayanan Paulus (termasuk Markus keponakan Petrus). Surat ini ditulis untuk Efesus 5 tahun setelah Paulus meninggalkan Efesus dan sedang dalam penjara Roma. Di penjara, Paulus yang makin dewasa secara pribadi dan pelayanan, kembali menekankan hal penting tentang kerendahan hatinya. Jika 5 tahun sebelumnya dia merasa paling rendah di antara para rasul (kelompok jabatan spiritual Kristen mula-mula yang tertinggi setelah kenaikan Tuhan Yesus ke sorga). Saat itu dia juga merasa paling hina di antara jemaat mula-mula (elachistoteros pantōn hagiōn). Berarti rasul pun bertumbuh dalam karakter, khususnya dalam kerendahan hati. Paulus tidak meratapi nasib nya di penjara kejam Roma sebab itu juga tujuannya agar bisa melayani dan bersaksi di istana kaisar diantara para pembesar-pembesar dunia. Siapa pun kita, kerendahan hati adalah proses yang terus menerus dipraktekkan. Seperti kata CS Lewis, “humility isn’t thinking less of yourself, it’s thinking of yourself less.” Humility calls us to first serve God and our neighbors before serving ourselves. When we respond in obedience to Him and give Him all the glory and honor, we are practicing humility. “kerendahan hati bukanlah berpikir lebih rendah tentang diri sendiri, melainkan berpikir kurang tentang diri sendiri.” Kerendahan hati mengajak kita untuk terlebih dahulu melayani Tuhan dan sesama sebelum melayani diri sendiri. Ketika kita taat memberikan segala kemuliaan dan kehormatan kepada-Nya, kita sedang mempraktikkan kerendahan hati.
Setinggi apapun posisi, pencapaian, popularitas, dan power kita, mari terus belajar dan mempraktekkan kerendahan hati. Meneladani Paulus, mohon pimpinan Roh Kudus agar dimampukan bertumbuh dalam kerendahan hati.
Inspirasi: Jika kita merasa sudah rendah hati, di situlah kita masih harus belajar rendah hati.
LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.




