AJARAN VS NDABUL

Firman Tuhan : 1 Timotius 4: 1-16
“Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu… karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” (1
Timotius 4: 16)
Seorang mentor dalam kursus mengemudi, tidak hanya mengajarkan teori di kelas tetapi ia juga harus mempraktekkan cara mengemudi yang benar, menjadi contoh dalam mentaati lalu lintas di jalan. Jika ia hanya “ndabul” (Jawa: asbun, membual) bisa membuat murid celaka bahkan nyawa bisa melayang. Hidup dan ajaran harus benar dan selaras.
Rasul Paulus menulis untuk Timotius, pemimpin muda agar menjaga kemurnian ajaran, menata kehidupan jemaat, membina pemimpin yang berintegritas. Situasi saat itu, muncul ajaran sesat ayat 1 (mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan) dan ayat 3 ( melarang orang kawin, melarang makanan tertentu). Jemaat membutuhkan pemimpin yang kuat dan berkarakter. Paulus menekankan bahwa pelayan Tuhan harus benar dalam ajaran dan mengaplikasikannya. Mari kita pelajari bersama:
- Ayat 1-5. Nubuat tentang kemurtadan. Guru palsu menyampaikan ajaran yang tampaknya rohani tapi menyesatkan.
- Ayat 6-10. Pelayan Kristus yang benar harus hidup dalam terang firman Tuhan, dan melatih diri hidup dalam kesalehan.
- Ayat 11-15. Timotius diminta mengajar dengan penuh wibawa rohani, menjadi teladan, setia, mengembangkan karunia rohani. Ayat 16. Sebagai puncaknya, kesimpulan praktis bahwa pengajar harus mengawasi diri sendiri dan ajarannya.
“Awasilah dirimu sendiri.” Menjaga kehidupan pribadi, integritas, kesucian hati dan motivasi pelayanan. Pelayanan yang hebat tidak bisa menutupi kehidupan pribadi yang rapuh.
“Awasilah ajaranmu.” Mengajar sesuai Injil, tidak boleh menyimpang mengikuti tren atau sekedar menyenangkan telinga.
“Bertekunlah dalam semuanya itu.” Konsisten, tidak menyerah, setia dalam proses yang panjang (seperti lari maraton bukan sprint).
“Menyelamatkan dirimu dan orang yang mendengar.” Timotius dipakai Tuhan membawa jiwa kepada keselamatan. Hidup dan ajaran yang benar menjaga dirinya serta jemaat dari kesesatan.
Sibuk dan aktif melayani harus dengan pondasi yang kuat dalam doa, Firman Tuhan, berintegritas dan berkarakter. Kita harus mengajarkan kebenaran dalam pimpinan Tuhan dan berjuang agar menjadi teladan sehingga tidak ndabul (ngomong doang, jarkoni: iso ngajar ora iso nglakoni, hanya bisa mengajar tapi praktek tidak ada). Kiranya Allah memampukan kita untuk menjaga diri dan mengajarkan segala sesuatu sesuai Firman Tuhan.
Inspirasi: Hanya bersama Tuhan (berdoa, membaca Alkitab, berintegritas, berkarakter, rendah hati), kita dimampukan menjaga diri sendiri dan ajaran kita
LPMI/Rini Djatikoesoemo




