MENYIKAPI KESUKARAN

MENYIKAPI KESUKARAN

Firman Tuhan           : 2 Korintus 6:1-10

“Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran..” (2 Kor. 6:4)

 

Pernah ada seorang pemuda, anak petani, memanjat pohon kelapa yang cukup tinggi, tanpa kendali, menyabet tulang keringnya, dengan parang kelapa yang sangat tajam itu. Darah pun mengalir deras, ia menjerit kesakitan, sembari menuruni pohon kelapa itu. Setibanya di bawah, dia langsung melangkah dengan timpang menuju Balai Pengobatan desa sejauh ratusan meter. Di sana ia harus dijahit oleh perawat, tanpa dibius, karena keterbatasan sarana itu. Teriakannya pun sampai terdengar ratusan meter, tiap kali jarum menusuk kulit tulang keringnya itu. Perawat itu berkata, “Tahan ya! “Tahan ya!” Bayangkan, dalam keadaan merintih, dia harus mendengar kata-kata sang perawat yang dikenal temperamental, yang sebenarnya sukar diterima itu.

Dalam suatu pertemuan Latihan Staf Nasional, seorang pembicara memulai dengan bertanya, “Di dunia ini apa yang paling sukar?” Sontak semua terdiam dan berpikir sejenak, namun tak seorangpun bisa menjawab, sampai ia memberitahu sendiri jawabannya, bahwa yang paling sukar adalah kesukaran. Ya, itu faktual, di mana hidup ini berjalan seiring dengan kesukaran. Beberapa istilah dalam bahasa Inggris, seperti trouble, circumstances, difficulties, hardship atau adversity, banyak disebut secara silih berganti dalam Alkitab, semua merujuk pada apa yang disebut kesukaran. Sebuah kata, yang untuk didengar saja sudah berat, apalagi mengalaminya.

Bila mencermati ungkapan kesaksian Paulus dalam 2 Korintus 6:1-10 itu, tampaknya kesukaran yang dia alami sangat berat. Mungkin saja penderitaannya lebih berat dari apa yang ditulisnya, namun hal itu cukup untuk diketahui oleh jemaat Korintus, dan juga orang percaya di segala waktu dan tempat. Mari kita pikirkan, apakah dalam situasi yang sukar seperti itu, ketika ia teringat akan hidup lamanya, sebagai pemimpin Yahudi, apakah terbersit pikiran untuk mundur, supaya lepas dari penderitaan dan kesukaran? Itu pasti ada dalam dirinya sebagai manusia. Namun dia bersyukur oleh karena belas kasihan Tuhan, ia sudah terlepas dari jerat dosa (mengikuti hawa nafsunya) itu (cf. Gal. 1:13; 1 Tim 1:13). Kini sifat dan tabiat jahat yang ingin membalas kejahatan dengan kejahatan itu, sudah dibuang dan diganti dengan sifat manusia baru (Kol. 3:8). Apalagi ketika dia berkata: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal. 2:20). Sangat mengherankan, bukan? Tadinya dia tidak suka menerima kesukaran, sekarang berganti menjadi senang dalam kesukaran (2 Kor. 12:10). Lalu kita mungkin berkata, “Luar biasa sikap rasul Paulus!” Tetapi bagaimana dengan sikap kita sendiri? Menghindari kesukaran atau menjalaninya?

Inspirasi: Kalau orang duniawi selalu bertanya, “Mengapa aku mengalami kesukaran ini?” Orang percaya sejati selalu bertanya, “Apa maksud Tuhan di balik kesukaran ini?”

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts