Panggilan Kudus untuk Jiwa yang Diutus

Ayat bacaan: Yesaya 6:1–8
“Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’ Maka sahutku: ‘Ini aku, utuslah aku!'” (Yesaya 6:8)
Ketika berdiri di hadapan Allah, masihkah kita menyadari betapa besar Dia dan betapa kecilnya kita? Dia Kudus dan saya menjijikkan? Yesaya yang melihat kekudusan Allah merasa tidak ada harapan, “Celakalah aku!”. Jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia akan binasa. Namun, tidak lama kemudian, malaikat datang, menyentuhkan bara api pada bibirnya, lalu menyucikannya. Bukankah jelas bahwa inisiatif TUHAN-lah yang membenarkan dan mendamaikan Yesaya dan Diri-Nya sendiri? Lalu saat TUHAN bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus?”, Yesaya tidak lagi gentar. Dari jiwa yang telah ditransformasi, ia merespons dengan penuh penyerahan: “Ini aku, utuslah aku!”.
David Platt dalam bukunya “Follow Me”, mengatakan: “Banyak orang di dunia yang berpikir mereka orang Kristen, padahal bukan. Ada banyak orang yang berpikir mereka sudah lahir baru, padahal mereka sudah ditipu habis-habisan”. Kenyataannya, keselamatan bukanlah menu di mana kita bebas memilih untuk menjadi pengikut saja dan menolak diutus sebagai saksi, namun menjadi pengikut-Nya berarti menyadari keberdosaan kita, mengalami pengampunan-Nya, lalu dengan sukacita (respons alami) menjadi pengikut-Nya yang menceritakan dengan bangga pengampunan yang kita terima, bak kisah terhebat yang kita miliki. Adakah kesaksian lain yang lebih hebat dibandingkan jiwa Anda dipuaskan dan diselamatkan dari kematian kekal?
Jika sampai saat ini kita masih melihat Allah sebagai mesin ATM yang memenuhi kebutuhan kita, sebagai konselor yang mendengar dengan penuh empati untuk memvalidasi perasaan kita, atau sekadar menyetujui firman ini secara intelektual, tanpa sungguh mengenal dan mengalami kekudusan-Nya, maka tidak akan ada transformasi hati dan pikiran yang membuat kita berlari menjauhi dosa dan melompat dalam sukacita karena telah diselamatkan dari kebinasaan. Maka, mintalah kepada Allah: “Tuhan, tunjukkanlah kekudusan-Mu kepadaku.” Seseorang pernah berkata kepada saya, “Semakin saya mengikuti Kristus, semakin saya menyadari bahwa saya ini kecil dan bersyukur karena Ia telah menemukan saya. Ini kisah cinta saya, dan saya ingin meneriakkannya kepada dunia!!”.
Inspirasi: Berdoalah, “Singkapkanlah selubung mataku agar aku dapat memandang kekudusan-Mu, agar hatiku tak lagi terbelenggu oleh dunia, dan mulutku tak bisa diam menceritakan kasih-Mu.”
Penulis: Herwidya Estherline
Recommended Posts

Berlomba dengan Tekun
November 03, 2026

Tetap Tinggal dalam Kristus
November 02, 2026

BAGI DIALAH KEMULIAAN
Oktober 31, 2026

