MENABUR DENGAN SETIA

Firman Tuhan : Pengkhotbah 11:1–6
“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” (Pengkhotbah 11: 6)
Bapak tua itu setiap pagi pergi ke ladang. Ia menaburkan benih ke tanah (jagung, kacang panjang, tomat, cabe, terong, dll). Setelah benih ditabur, ia tidak dapat melihat apa yang terjadi di dalam tanah, tidak dapat memerintahkan benih supaya tumbuh, tidak bisa memaksa hujan turun, tidak dapat memastikan apakah setiap benih itu menghasilkan panen besar. Ia tetap setia menabur, sebagai bentuk tanggung jawab. Pertumbuhan benih tersebut ada dalam kuasa-Nya.
Nats hari ini, mengajarkan kita agar tidak pasif. Justru sebaliknya, kita harus bertindak bijaksana dalam pimpinan-Nya, meskipun masa depan masih misteri. Pengkhotbah 11: 1-6;
Ayat 1, “Lemparkanlah rotimu ke air…” seperti tindakan yang sia-sia. Namun tidak ada yang sia-sia di dalam Tuhan.
Ayat 2, “… tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi.” Bencana alam bisa saja tiba-tiba melanda dengan dahsyat menghancurkan semuanya.
Ayat 3, …tidak tahu kapan hujan turun.” Musim berubah tidak bisa diprediksi, kadang kemarau sangat lama dan kekeringan panjang. Atau tiba-tiba hujan turun sangat deras banjir dimana-mana.
Ayat 5, “…tidak tahu bagaimana angin bergerak. Tidak tahu bagaimana kehidupan terbentuk dalam Rahim.” Semua misteri di tangan-Nya.
Ayat 6, “..tidak tahu mana yang akan berhasil.” Jadi yang utama adalah hidup dalam kuasa-Nya, ketika semua tidak ada kepastian.
Ayat 6 menjadi puncak nasihat: “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari…” Ini adalah gambaran tentang ketekunan, keberanian, dan kesetiaan, meskipun kita belum tahu hasil akhirnya. Kita dipanggil untuk setia menabur, apapun hasilnya ada dalam kedaulatan – Nya. Iman tidak hanya berkata dan berharap, tetapi harus bertindak dengan cermat. “Janganlah memberi istirahat kepada tanganmu” Ini kegigihan, bukan berarti tidak boleh beristirahat secara fisik, tetapi jangan berhenti melakukan tanggung jawab dan kebaikan meski hasilnya belum terlihat. Ada waktu untuk menabur, menunggu, dan menuai.
Ketidakpastian tidak boleh menghentikan kerja keras untuk menabur. Kita tidak tahu apakah ini atau itu yang akan berhasil” Inilah realitas kehidupan, tidak semuanya bisa diketahui. Seorang mahasiswa belajar hari ini, tetapi belum tahu bagaimana masa depannya. Orang bekerja dengan jujur, belum tentu langsung melihat hasil perjuangannya. Namun semua tidak sia-sia di dalam Tuhan. Kita harus setia dan bertanggung jawab untuk menabur. Jangan malas. Allah berdaulat penuh atas pertumbuhan dan hasilnya (bd.1 Korintus 3:6). Allah memberi pertumbuhan pada waktu- Nya seturut kehendak-Nya yang terbaik.
Inspirasi: Benih yang belum terlihat bukan berarti tidak bertumbuh. Tetap setia menabur, Allah berdaulat penuh memberi pertumbuhan yang menakjubkan.
(LPMI/Rini Djatikoesoemo)
Recommended Posts

MENJADI PENJALA MANUSIA
September 19, 2026

HIDUP DALAM PENGHARAPAN
September 18, 2026

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

