HIDUP DALAM PENGHARAPAN

HIDUP DALAM PENGHARAPAN

Firman Tuhan : 1 Petrus 1: 3-9

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, (1 Petrus 1: 3)

Seorang koki yang baik harus memiliki dasar pengetahuan kuliner yang memadai dan up to date, menguasai proses memasak sampai tujuan akhir penyajian tercapai. Petrus dan Yohanes (KPR 4:13) disebut agrammatoi (orang yang tidak dididik secara formal dalam tradisi rabi), ternyata mampu menulis surat sangat berbobot, kaya retorika, padat teologi, dengan alur logika, dan penguasaan bahasa yang tinggi. Dalam perikop ini secara umum tampak 2 hal yang beriringan.

Inisiatif Allah: melahirbarukan (ay. 3), menyediakan warisan (ay. 4), memelihara orang percaya dengan kuasa-Nya melalui iman (ay. 5), mengizinkan dan memakai ujian untuk memurnikan iman (ay. 6–7), menyatakan Yesus Kristus dan menggenapi keselamatan pada akhir zaman (ay. 5, 7, 9).

Respons manusia: hidup dalam pengharapan, tetap percaya, mengasihi Kristus walau belum melihat-Nya, tetap bersukacita di tengah dukacita, dan bertahan dalam berbagai pencobaan. Di ay. 3, Petrus memulai dengan pujian pada Allah eulogetos o theos (Yang layak dipuji), yang telah melahirbarukan oleh belas kasihan (eleos) semata, bukan pada penderitaan tetapi dengan penyembahan. Petrus memulai dengan penyembahan kepada Allah. Orang-orang yang menerima surat ini sedang kehilangan banyak hal: rumah, pekerjaan, keamanan, bahkan nama baik. Semuanya sedang rusak, dicemari, dan layu (dampak dosa -Kej 3), namun Petrus menegaskan bahwa dunia dapat merusak banyak hal, tetapi warisan hidup kekal tetap abadi. Orang percaya tetap memiliki “pengharapan yang hidup” (ay. 3), bukan karena keadaan mereka baik, tetapi karena tujuan akhir mereka tidak dapat diganggu gugat.

Melalui kebangkitan Kristus, Allah menyediakan warisan yang memiliki tiga sifat sebaliknya (retorika 3 alpha dengan akhiran ton di ay 4): aphtharton– tidak tunduk kepada kebinasaan; amianton– tidak tersentuh oleh kenajisan dosa, dan amaranton– tidak pernah kehilangan kemuliaan dan keindahannya. Ketika sukacita dan penderitaan harus berjalan secara bersamaan dalam iman karena phrouroumenous Allah (jaminan penjagaan yang terus menerus).

Petrus tidak mengatakan bahwa semua penderitaan berasal dari Allah, melainkan bahwa Allah sanggup memakai penderitaan yang diizinkan-Nya untuk memurnikan iman umat
-Nya dan mengarahkan mereka kepada pengharapan yang tidak dapat binasa. (ay 5-6). Di sinilah letak kekuatan Injil: bukan menjanjikan hidup tanpa air mata, melainkan menghadirkan pengharapan melalui kebangkitan Kristus. Jadi keselamatan bukan hanya “disediakan” bahkan perjalanan menuju keselamatan juga dijagai Allah (ay 7-9).
Kebangkitan Kristus menjamin masa depan orang percaya. Pemeliharaan Allah menopang perjalanan kita. Pemurnian iman melalui pencobaan mempersiapkan kita untuk menerima pujian, kemuliaan, dan kehormatan pada saat Yesus Kristus dinyatakan.

Inspirasi: Hidup dalam pengharapan adalah proses pemurnian dalam bimbingan-Nya menuju kemuliaan-Nya yang kekal.

(LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.)

share

Recommended Posts