WAKTU TUHAN

WAKTU TUHAN

Firman Tuhan : 1 Raja-raja 19: 1-16

Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau. (1 Raja-raja 19: 15-16)

Alm Letjend (Purn) TB Simatupang memprioritaskan hidup dan perjuangannya membantu Panglima Besar Sudirman menata organisasi Tentara Indonesia di awal kemerdekaan sekitar 5 tahun sudah mapan. Selanjutnya beliau mengundurkan diri dan fokus menata terbentuknya PGI yang menurutnya jauh lebih sulit dan lama. Beliau memprioritaskan waktu untuk berdirinya PGI hingga akhir hayatnya.

Bacaan 1 Raja-raja 19 memuat salah satu “teka-teki” yang cukup membingungkan. Apa Perintah Tuhan ke Elia? Di ayat 15-16 Tuhan menyuruh Elia di Gunung Horeb untuk: (i) Urapi Hazael jadi raja Aram, (ii) Urapi Yehu cucu Nimsi jadi raja Israel, dan (iii) Urapi Elisa jadi nabi menggantikan Elia. Namun pasal-pasal selanjutnya sampai Elia terangkat ke sorga belum semua terlaksana. Mengapa? Kata Ibrani umashachta “dan engkau akan mengurapi” (Qal Perfect + waw konsekutif). Frasa ini berupa perintah pasti, tapi tidak harus “hari ini juga.” Kata ini dipakai untuk perintah yang urutannya diatur oleh Tuhan. Melihat konteks saat itu, mengapa Elia tidak langsung mengurapi Yehu? Ada 3 alasan dari teks dan sejarah:

Waktu Yehu belum tiba. Ketika Elia menerima mandat itu, raja Israel masih dijabat Ahab (1 Raj 19:18), Yehu masih perwira muda waktu itu. Dia baru menjadi panglima di zaman Yoram anak Ahab (2 Raj 9:11). Jika Yehu diurapi saat itu bisa jadi bahaya besar/ kudeta panglima lain.

Elia fokus ke Elisa dahulu. Dari urutan perintah Tuhan: Hazael, Yehu, Elisa yang dilaksanakan nomor 3 yakni mengurapi Elisa (1 Raj 19:19). Elia sadar jika tanpa penerus yang siap, mandat untuk Hazael & Yehu tidak akan jalan. Dengan hikmat Tuhan dia prioritaskan kaderisasi dulu.

Dominasi Izebel. Elia berani melawan 450 nabi Baal di Karmel (1 Raj 18), dia bukan penakut, lebih ke “tahu kapan waktunya Tuhan”. Tuhan juga berfirman “…ada 7000 orang yang tidak sujud ke Baal” (ay 18). Elia pernah lari dari Izebel setelah peristiwa Karmel (1 Raj 19:3 ). Kata Elia, “hanya aku seorang diri yang tinggal” (ay 10), jadi ada trauma juga. Dia tidak memaksa mengurapi Yehu ketika belum saatnya. Itu hikmat, bukan ketidaktaatan. Artinya penghakiman belum waktunya, lalu kondisi politik lebih memungkinkan.

Perintah Tuhan tidak kadaluwarsa, perintah “urapi Yehu” tetap terjadi 15 tahun kemudian lewat Elisa. Tuhan selalu ingat janji-Nya. Ketaatan berarti melakukan bagian kita namun juga percaya timing Tuhan. Pelayanan itu estafet, Elia menerima mandat, Elisa melanjutkan. Tuhan berdaulat memakai lintas generasi untuk menggenapi rencana- Nya. Demikian juga, ketika negara, bangsa atau organisasi sedang kolaps, bisa jadi itulah waktu bagi orang benar yang berkualitas untuk tampil memimpin perubahan.

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.

share

Recommended Posts