PERAN ANONIM DALAM PEKERJAAN ALLAH

Firman Tuhan : 2 Raja-raja 9: 1-10
Kemudian ambillah buli-buli berisi minyak itu, lalu tuangkan isinya ke atas kepalanya dan katakan: Beginilah firman TUHAN: Telah Kuurapi engkau menjadi raja atas Israel! Sesudah itu bukalah pintu, larilah dan jangan berlambat-lambat.” (2 Raja-raja 9:3)
Menjadi terkenal dan dikenang dalam sejarah merupakan kebanggaan. Banyak orang bergelar pahlawan maupun “tokoh” dari berbagai latar belakang. Tidak sedikit orang yang berbangga diri karena memiliki relasi dengan orang-orang tersebut.
Dalam narasi ini diceritakan penobatan Yehu oleh seorang nabi muda anonim. Ini adalah penggenapan atas perintah Allah pada nabi Elia kira-kira 15 tahun sebelumnya. Kita akan belajar dari penobatan Yehu cucu Nimsi menjadi raja Israel untuk memunahkan keluarga raja Ahab dan memimpin restorasi Israel sbb:
Elisa memanggil salah seorang dari rombongan nabi (Ibr: achad mibbene hannvi’im –satu orang, murid biasa bukan sehebat Elia atau Elisa (ay 1). Nabi muda ini setia pada tugas dan misi hidup (Ibr: lekh Pergilah!) tidak banyak bertanya dan menerima semua rincian tugas untuk bertemu Yehu, mengurapi dan segera pergi (ay 2-3).
Fokus pada misi (ay 4-10a). Kata veyatsaqta -dan engkau akan menuangkan, adalah kata khusus untuk pengurapan raja. Tugas berat, tapi pelakunya tidak terkenal. Misi hidupnya jelas: menuangkan minyak. Itu cukup di mata Allah. Kata shalahtiikha -Aku telah mengutus engkau (ay 7) berarti subjeknya Allah sendiri dan nabi muda itu hanyalah “corong”.
Rendah hati & rela tidak dikenal (ay 10b). Setelah misi selesai segera lari. Bahkan awalnya Yehu tidak terus terang pada panglima lainnya (ay 11 dab). Nama nabi muda tidak pernah disebut di Alkitab, berbeda dengan Elia, Elisa, Samuel, Natan dll. Dia bisa pergi diam-diam (ay 10-11) tanpa selebrasi atau perjamuan bersama para pembesar.
Di era digital dan medsos ini branding diri dan viral itu sangat penting. Namun kita belajar bahwa berharga di mata Allah itu berbeda dengan di mata manusia, dimana Tuhan belum tentu membutuhkan massa namun hanya achad -satu orang. Dalam sejarah Allah, “satu” yang anonim menjadi titik balik. Mungkin ada yang berkata, “Saya siapa? cuma jemaat biasa”, namun status “diutus Allah” lebih tinggi dari apapun. Dalam hikmat-Nya Tuhan tahu kapan menyembunyikan nama di hadapan manusia, karena anonim tidak ada saingan, kesombongan, atau kegagalan. Mari kita melayani-Nya dengan fokus pada misi yang kita yakini dan jalani, lalu jangan kecewa jika tidak ada apresiasi.
LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

