MERDEKA DALAM BERKARYA

MERDEKA DALAM BERKARYA

Firman Tuhan: Galatia 6:1-10

Karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Gal. 6:10

Berkarya  itu  ternyata  tidak  mudah!  Mengapa?  Ya,  karena  perlu  energi  yang cukup; pikiran, tenaga, baik jasmani maupun mental. Namun akan lebih susah lagi, kalau kita berada di suatu negara yang menutup peluang bagi orang untuk berkreasi atau berinovasi. Atau juga, minimnya fasilitas pendukung yang seharusnya sangat perlu untuk suatu penelitian atau pengembangan.   Seperti pada suatu hari, ada seorang sarjana jebolan S3 yang baru saja pulang  dari Perancis. Ia sangat kesal ketika melihat sarana laboratorium di kampusnya, yang tidak memadai untuk pekerjaannya. Dia berkata, “Sia- sia semua apa yang saya sudah pelajari selama bertahun-tahun. Matilah pengetahuan saya!” katanya. Dengan kata lain, dia merasa tidak ada kebebasan untuk berkembang. Ia merasa   kehilangan   kesempatan   untuk   berbuat   sesuatu   untuk   mewujudkan   misi ilmiahnya. Apalagi bila misi dalam memperkenalkan kasih Kristus, menjadi semakin terbatas. Banyak orang ingin berbuat sesuatu, tapi tak sedikit hambatan (obstacles) yang menghadang.

Dapatlah dikatakan bahwa Paulus adalah orang yang sangat efisien dan efektif dalam pelayanannya. Tidak ada mediokritas (setengah-setengah) dalam hatinya. Semua yang dia lakukan diusahakannya selalu excellent (yang terbaik). Ada yang mengatakan, “Dia dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling rela menderita setelah Yesus sendiri.”

Mungkin Paulus pernah menyadari, dulu sebelum dia bertobat, dia telah bekerja keras demi keyahudiannya. Lalu setelah menjadi hamba Kristus, bukankah  dia harus lebih lagi? Maka wajarlah jika dia mengabdikan hidupnya sepenuhnya bagi Tuhan, sekalipun harus kehilangan nyawa (Kis. 20:24). Seperti kesaksian seorang percaya yang teraniaya bertahun-tahun di suatu negara tertutup, ia pernah didatangi bukan untuk dihibur, malah ditekan  dan  mau  dieksekusi,  tetapi  dia  dengan  tenang  melayani  mereka  semua. Sikapnya  itu  malah  membuat  orang  menjadi  heran, karena  baginya,  seperti  kata Paulus, ia mau bekerja untuk memberi buah (cf. Filipi 1:21-22).

Sekarang ini, tidak sedikit orang yang menjadi begitu kreatif dan inovatif, dalam mengerjakan misi pelayanannya. Ada istilah sekarang, “kita tidak hanya bekerja keras tetapi juga bekerja  kreatif.”  Rupanya  kata-kata  ini beranjak  dari apa yang dikatakan pengamsal, “Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.” (Ams.19:2). Di zaman di mana penggunaan Artificial Inteligence – AI yang  semakin  gencar  ini,  orang  tidak  mau  sekedar  bekerja  tapi “berkarya”,  artinya bekerja dengan terobosan baru, ada “benchmark” nya, sehingga lebih efisien dan efektif. Kita  yang  dipanggil untuk mewujudkan  “movement  everywhere”,  memiliki  kebebasan yang sama, menggunakan kesempatan untuk berkarya lebih lagi, untuk mengisi kemerdekaan ini. “Redeeming the time, because the days are evil.” (Ef. 5:16).

Inspirasi: Mengerjakan yang terbaik sudah pasti ada implikasi, tetapi bagi yang siap membayar harga, tidak ada hitung-hitungan lagi, jika itu membawa dampak yang sangat berharga.

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts