MERDEKA DALAM BERINTERAKSI

Firman Tuhan : Galatia 2:1-10
“ – Karena ia yang telah memberi kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang- orang bersunat, ia juga yang telah memberi kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.” (Gal. 2:8)
Berinteraksi maksudnya? Mungkin kata kunci seperti; diskriminasi, separatism, eksklusivisme, semua bernuansa disintegrasi, bukan berintegrasi. Tanpa disadari inilah perilaku yang kontras dengan kehendak Tuhan. Padahal Yesus sendiri berdoa, “Supaya semuanya menjadi satu.” (Yoh. 17:21). Tuhan tidak bicara kesatuan politik, sosial, ekonomi, budaya , dan sebagainya, tetapi kesatuan dalam keluarga Allah, di antara orang-orang percaya.
Setelah dipanggil dan dikhususkan untuk menjadi hamba-Nya (Kis. 9:15), rasul Paulus sangat responsif dengan visi Allah untuk membawa semua orang menjadi satu di dalam Dia. Dia rindu agar semua orang percaya, baik Yahudi maupun non Yahudi, terintegrasi satu sama lain dalam satu keluarga. Memang sebelumnya, semangat eksklusif keyahudian, sangat melekat padanya. Namun Tuhan membebaskan dia dari perangkap diskriminatif itu, dan dia benar-benar secara terbuka luas menjangkau orang bukan Yahudi, meski harus menghadapi berbagai tantangan dan oposisi.
Panggilan Tuhan yang jelas dan tak pernah salah, membuat Paulus begitu agresif memberitakan Injil, dengan suatu kerinduan agar semakin banyak orang menjadi anggota keluarga Allah. Hal itu terlihat dari penjelasannya dalam Efesus 2:11-22, di mana Allah mempersatukan orang Yahudi non Yahudi, yang dahulu berjauhan kemudian menjadi dekat di dalam iman kepada Kristus Yesus.
Memang dari semula, Allah tidak menciptakan umat manusia terpecah belah, tetapi kejatuhan manusia ke dalam dosa (the fall), telah memicunya. Apa yang dibahas Paulus dalam Roma pasal 9 – 11, sangat menunjukkan hal itu, di mana rencana Allah agar semua bangsa boleh diselamatkan. Fakta ini membuat Paulus tiba pada suatu tesis yang luar biasa, bahwa Allah yang sungguh Mahatahu dan Mahabijaksana itu, tak dapat diselami oleh pikiran manusia berdosa (33-36).
Allah bukan saja datang berinteraksi (membangun relasi) dengan manusia berdosa, tetapi menciptakan atmosfir yang interaktif antar bangsa. Hal itu tergambar pada moment SESA Conference yang memang sangat interaktif itu. Bagaimana mungkin antar bangsa yang berbeda-beda, dapat bersekutu dan saling sharing seperti itu? Benar-benar esensi kemerdekaan dalam Kristuslah, yang memungkinkan semua itu (iklim saling melayani oleh kasih) terjadi (cf. Gal.5:13b).
Semangat misioner Paulus, seharusnya terus memacu kita juga untuk berinteraksi dengan mereka yang belum mengenal Kristus. Sebagai orang merdeka, kita rindu agar orang lain juga merdeka. Kita tidak hanya berdoa bagi kemerdekaan dan kesatuan bangsa Indonesia secara politik, tetapi juga bagi kebebasan – kebangunan rohani (revival) bagi bangsa ini.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

