MERDEKA DALAM BERBICARA

Firman Tuhan : Galatia 4:12-20
“Betapa rinduku untuk berada di antara kamu pada saat ini dan dapat berbicara dengan suara yang lain, karena aku telah habis akal menghadapi kamu.” Gal. 4:20
Berbicara tentang kebenaran, ternyata susah. Mengapa? Bisa dimusuhi, dibenci, difitnah balik, dihindari, dan masih banyak kemungkinan lain. Ada seorang berkata, “Menegur seseorang yang bersalah, serba salah. Menegur salah, tidak menegur salah! Dalam kenyataan, mengatakan sesuatu yang manis walaupun tidak jujur, rasanya lebih enteng daripada mengatakan sesuatu yang pahit, walaupun itu benar.” Memang dalam hal berbicara atau mengatakan sesuatu, umumnya ada dua macam orang; pertama, ada yang blak-blakan – to the point, terus terang, ceplas ceplos, tidak mau basa basi. Yang kedua, enggan, segan, ragu-ragu, malu, dan sebagainya. Tentu saja Paulus merasakan bahwa dengan mengatakan yang benar, dia akan tidak disukai (4:16), tetapi karena kasihnya yang besar dan demi kebaikan mereka, dia harus katakan. Dia juga tahu prinsip dalam Amsal 27:5, bahwa lebih baik teguran yang nyata-nyata, daripada kasih yang tersembunyi.”
Tampaknya rasul Paulus, yang dijuluki manusia kolerik itu, memang orang yang bicaranya tegas dan lugas. Itu terlihat ketika ia berbicara dalam berbagai kesempatan (Kisah Para Rasul 13-28),]. Begitu pula melalui surat-suratnya, baik eksplisit maupun implisit, ketegasannya cukup menonjol. Seperti nada bicara yang terlihat dalam Galatia 1:6 – “Penggunaan indikatif yang dipadukan dengan kata “heran” (thaumazo), menunjukkan tingkat urgensi dan kekecewaan Paulus yang mendalam, karena mereka meninggalkan anugerah Allah begitu cepat.” Dalam bentuk surat, Paulus masih menggunakan salam pendahuluan, namun andaikata ia bertemu langsung, mungkin ia akan menegur mereka secara langsung, namun dengan kata-kata yang berbeda (ay. 6-10).
Karena kasihnya, ia memperlakukan jemaat itu bagaikan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Ketika melihat jemaat melenceng, ia menderita secara batiniah, merasa seperti sakit bersalin (travail) lagi. Donald Campbell, penafsir kitab Galatia, juga mengatakan: “The apostle, on the other hand, had always had good motives regarding the Galatians. Addressing them tenderly as children (tekna mou, an expression found only here in Paul’s epistles), Paul compared himself to a mother in the throes of birth pangs. He had experienced this once for their salvation; he was in travail again for their deliverance from false teachers.” (ay.19-20). Memang mengecewakan, karena secepat itu mereka berbalik dari pengertian yang benar, kembali ke pengajaran Injil yang palsu–keselamatan oleh Hukum Taurat, lalu menyangkali kasih karunia Allah.
Dalam pelayanan selama ini, kita juga ada perasaan (pergumulan batiniah), yang sama dengan Paulus, bukan? Tapi ingat, hal itu tidak sia-sia (1 Kor. 15:58). Seorang staf bercerita, dalam membina kelompok kecilnya, tidak sedikit air mata di dalamnya. Pernah dalam keadaan hamil tua pun, dia berusaha (dengan berjalan kaki) mengunjungi dan berbicara pada mereka. Jadi, memang harus ada pengorbanan. “Do not be afraid, but speak, and do not keep silent!” (Kis. 18:9b).
Inspirasi: Tidak jadi mengatakan sesuatu yang tidak perlu dikatakan itu lebih bijaksana daripada batal mengatakan sesuatu yang seharusnya dikatakan.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

