MENJADI UTUSAN REKONSILIASI ALLAH

MENJADI UTUSAN REKONSILIASI ALLAH

2 Korintus 5:14-21

“Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” (2 Korintus 5:20, TB)

Surat 2 Korintus ditulis oleh Rasul Paulus di tengah-tengah tantangan berat, baik dari luar berupa penderitaan fisik maupun dari dalam berupa penolakan terhadap otoritas kerasulannya oleh beberapa jemaat di Korintus. Namun, alih-alih mundur atau menjadi pahit, Paulus justru memaparkan motivasi terdalam dari seluruh dedikasi pelayanannya: kasih Kristus yang mengendalikan hidupnya. Kematian Kristus untuk semua orang telah mengubah cara pandang Paulus secara radikal, dari menilai manusia berdasarkan ukuran duniawi menjadi melihat mereka sebagai jiwa-jiwa yang membutuhkan keselamatan.

Secara teologis, Paulus menegaskan bahwa setiap orang yang berada di dalam Kristus adalah ciptaan baru, dan kepadanya telah dipercayakan “pelayanan pendamaian” (diakonia tes katallages). Kata kunci dalam ayat emas ini adalah “utusan-utusan” (Yunani: presbeuomen), yang merujuk pada duta besar resmi yang mewakili seorang raja atau penguasa di wilayah asing. Sebagai utusan Kristus, kita tidak membawa agenda, pesan, atau kepentingan diri sendiri, melainkan membawa amanat resmi dari Kerajaan Surga. Allah memilih untuk menyuarakan kasih dan pengampunan-Nya melalui hidup, perkataan, dan tindakan kita. Ini adalah fondasi utama dari visi penginjilan dan pemuridan: kita diutus bukan untuk menghakimi dunia yang telah rusak oleh dosa, melainkan untuk menyerukan kabar baik bahwa permusuhan antara manusia dan Allah telah diselesaikan di atas kayu salib. Oleh karena itu, mendukung pelayanan, terlibat dalam dukungan doa, dan memenuhi kebutuhan pengutusan misioner merupakan bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab kita sebagai diplomat surgawi di bumi.

LPMI/Tegoeh H. Santoso

share

Recommended Posts