MENGHADAPI PENOLAKAN

Firman Tuhan : Yohanes 15 : 18-27
Injil Yohanes pasal 15 ayat 18-27 merupakan bagian dari ajaran perpisahan Yesus kepada murid-murid-Nya, disampaikan sesaat sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan. Di saat murid-murid masih penuh pertanyaan dan ketakutan menghadapi masa depan, Yesus tidak hanya memberikan penghiburan, tetapi juga menyampaikan kebenaran nyata tentang kehidupan sebagai pengikut-Nya, serta janji kekuatan yang tidak akan pernah putus.
Ayat pembuka bagian ini menegaskan: “Jika dunia membenci kamu, ketahuilah bahwa ia telah membenci Aku sebelum membenci kamu;” (ayat 18). Yesus ingin menegaskan bahwa menjadi pengikut-Nya tidak menjamin kita akan selalu disukai atau diterima oleh semua orang. Kata "dunia" di sini bukan merujuk padan ciptaan Allah, melainkan sistem nilai, cara pandang, dan gaya hidup yang terpisah dari kehendak Allah serta bertentangan dengan kebenaran. Karena orang percaya dipanggil untuk hidup berbeda, menjadi garam dan terang, maka kehadiran kita akan menyoroti kegelapan yang ada. Alhasil, penolakan, cemoohan, bahkan kebencian bisa datang, bukan karena kita berbuat salah, melainkan karena kita tidak lagi menjadi bagian dari cara hidup dunia.
Yesus juga menegaskan: “Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa Ku"” (ayat 23). Kebencian yang kita terima karena iman pada hakikatnya adalah penolakan terhadap Allah sendiri, bukan terhadap pribadi kita.
Seringkali kita merasa kecewa, sedih, bahkan ingin mundur ketika dipermalukan, dikucilkan, atau ditolak karena memegang prinsip iman. Ayat ini mengingatkan; kita tidak sendirian mengalaminya. Yesus sendiri lebih dulu merasakan hal yang sama. Penolakan itu justru menjadi tanda bahwa kita benarbenar mengikuti jejak-Nya. “Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa; tetapi sekarang mereka tidak mempunyai alasan untuk dosa mereka” (ayat 22). Kedatangan Yesus telah membawa terang yang jelas. Setiap kita telah melihat karya dan mendengar firman-Nya, sehingga tidak ada alasan lagi untuk berpura-pura tidak tahu. Kebencian yang muncul bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena pilihan manusia untuk lebih mencintai kegelapan daripada terang. Hal ini juga menggenapi firman Tuhan yang tertulis: “Mereka membenci Aku tanpa alasan” (ayat 25.b).
Di tengah kenyataan pahit tentang penolakan, Yesus memberikan janji yang menjadi kekuatan terbesar bagi setiap kita percaya yakni kehadiran Roh Kudus. “Apabila Penolong datang, yang akan Kuutus kepadamu dari Bapa, yaitu Roh Kebenaran, yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula Bersama-sama dengan Aku” (ayat 26-27). Roh Kudus disebut sebagai Parakletos atau Penolong, yang berdiri di samping kita untuk memberi kekuatan, hikmat, dan keberanian. Ia tidak hanya bersaksi tentang Yesus, tetapi juga memampukan kita untuk menjadi saksi-Nya, meskipun kita berada dalam situasi yang menakutkan atau tidak menyenangkan. Tugas bersaksi bukan beban yang harus kita pikul sendiri, tetapi karya Allah yang bekerja di dalam kita.
Inspirasi: Menjadi pengikut Yesus memang tidak selalu mudah, tetapi kita memiliki jaminan: kuasa Allah yang lebih besar dari segala tantangan yang kita hadapi.
LPMI/Jopy Malihu
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

