KEUTUHAN DAN KEBULATAN

Firman Tuhan: 2 Tawarikh 13: 1-25
Tak pernah lagi Yerobeam mendapat kekuatan di zaman Abia. TUHAN memukul dia, sehingga ia mati. Abia menunjukkan dirinya kuat. Ia mengambil empat belas isteri dan memperanakkan dua puluh dua anak laki-laki dan enam belas anak perempuan. (2 Tawarikh 13: 20-21)
Sikap dan pemikiran adalah dua aspek yang berbeda meskipun ada keterikatan. Sikap muncul karena pengaruh atau hasil dari pemikiran yang dikembangkan.
Abia adalah raja Yehuda kedua setelah Rehabeam. Dia tercatat mengalahkan Yerobeam dari Israel utara. Karena itu penulis Tawarikh memberikan predikat Abia “Hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN”(1 Raja-raja 15: 3). “Tetapi kami ini, Tuhanlah Allah kami, dan kami tidak meninggalkan-Nya. Dan anak-anak Harunlah yang melayani TUHAN sebagai imam, sedang orang Lewi menunaikan tugasnya,” (2 Tawarikh 13: 25). Kedua catatan tersebut berbeda tapi saling melengkapi sesuai tujuannya masing-masing. Kitab Raja-raja menunjukkan ada banyak kegagalan raja-raja dan pemerintahan di Israel utara maupun selatan (Yehuda). Sementara Tawarikh ditulis pasca pembuangan dan fokusnya pada pengharapan dalam Tuhan.
Dari kedua perspektif ini kita bisa memahami Abia banyakmengerti kebenaran. Kata kunci dosa-dosa Abia di kitab Raja-raja adalah halakh = berjalan, hidup menurut suatu jalan. Artinya Abia bukan hanya pernah berdosa, tetapi pola hidupnya mengikuti dosa ayahnya (Rehabeam). Selanjutnya “ia tidak dengan sepenuh hati ….” (Ibrani: shalem berarti utuh, bulat, tidak terbagi). Menurut kitab Raja-raja, kesetiaannya kepada Allah
yang tidak utuh menjadi masalah utama bagi Abia. Dalam 2 Tawarikh 13, Abia menyampaikan pidato yang sangat indah dan secara teologis benar. Namun menariknya, kitab itu tidak pernah berkata, “Abia melakukan apa yang benar di mata TUHAN” Tuhan tidak hanya mencari teologi yang benar, tetapi juga hati yang utuh (lev shalem). Intinya keselarasan antara pengakuan iman dan kehidupan sehari-hari adalah panggilan setiap orang percaya.
Saat ini tantangan kita adalah bagaimana memiliki prinsip dan memprakteknya dengan benar. Di tengah dekadensi karakter bangsa dan moral ini, Allah menghendaki agar kita bergantung penuh dan utuh pada Tuhan. Berama Roh Kudus kita akan dimampukan hidup dalam kebenaran dan menjadi pelaku kebenaran.
Inspirasi: Mentaati firman-Nya secara utuh dan bulat dalam setiap segi kehidupan dalam pimpinan-Nya bagi kemuliaan Bapa.
LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

