KEPUTUSAN AWAL YANG VITAL

KEPUTUSAN AWAL YANG VITAL

Firman Tuhan  : Galatia 1: 15-17

Juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. (Galatia 1: 17)

Memasang kancing baju pertama itu penting, karena jika kita salah di awal, maka di urutan selanjutnya maka akan tidak pas (Jawa: Jonjing). Langkah pertama merupakan momentum yang tidak bisa diulang dan sangat menentukan proses serta pencapaiannya.

Bacaan kita memuat salah satu misteri historis-teologis di awal pelayanan Rasul Paulus. Pengasingan ke Arab sekitar 3 tahun sebelum ia aktif ke Yerusalem adalah titik balik krusial yang menentukan seluruh teologi misi non-Yahudi sebagai panggilan utama Paulus. Mari kita lihat situasi dan keputusan Paulus di balik keputusan radikalnya tersebut. 

“Arabia” dan hubungan dengan misi non Yahudi Paulus (ay 17). Secara geografis di abad pertama, Arabia yang dimaksud Paulus bukanlah Arab Saudi modern, melainkan Kerajaan Nabatea (ibu kotanya Petra) yang membentang dari selatan Damaskus

(Damsyik) hingga ke Semenanjung Sinai. Penduduknya adalah orang Arab-Nabatea (nonYahudi/ Gentiles). Kepergian ke Arabia berarti ia langsung menembus ladang misi nonYahudi tersebut.

Ia tidak pulang ke Yerusalem, berdiskusi dengan orang Yahudi untuk memulai mandatnya. Dia tidak minta pertimbangan (prosanethemēn:menaruh beban kasus pada otoritas lain untuk mendapatkan validasi”-kata ini berupa Middle Voice /tindakan yang berdampak pada diri sendiri) sebagai keputusan mutlak Paulus setelah bertemu Kristus.

Membangun perspektif misi yang kuat. “Aku pergi menjauh ke Arab”. Paulus mengontraskan kata ini, ia tidak pergi-anēlthon, naik/ ke Yerusalem pusat otoritas, melainkan pergi menjauh -apēlthon. Artinya Paulus menolak untuk disetir tradisi hierarki agama di Yerusalem. Ia memilih arah geografis yang berlawanan dengan Yerusalem untuk menjaga kemurnian wahyu yang ia yakini diterimanya langsung dari Yesus. Di Arab Paulus menjalani “Rekonstruksi Teologis bersama Roh Kudus. Di kesunyian padang gurun ia membaca ulang seluruh Perjanjian Lama dengan “kacamata baru” tentang Mesias. Disana Paulus meneguhkan panggilan (bd. Gal 4: 25 napak tilas Musa dan Elia “di gunung Sinai di tanah Arab”) dan memberitakan Injil (indikasinya 2 Korintus 11:32-33, Paulus dikejar Raja Aretas /Raja Nabatea/Arab yang mencoba menangkapnya di Damsyik).

Di zaman modern yang serba instan, orang cenderung ingin cepat terkenal atau melayani di panggung besar. Paulus mengajarkan nilai “Arabia-Time”, waktu penyendirian, refleksi, dan pematangan karakter di hadapan Tuhan jauh dari sorot lampu publik. Mari memurnikan isi hati kita di hadapan Allah.  Jika Tuhan sudah menaruh keyakinan dan panggilan yang jelas berdasarkan firman-Nya, melangkahlah dengan iman meski harus memulainya di tempat yang sunyi. Allah sanggup menolong dan memberi kemenangan. 

Inspirasi: Awali segala sesuatu dengan benar bersama-Nya meskipun berat. Mulailah dengan kerendahan hati dan keyakinan akan kuasa Roh Kudus.

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo

share

Recommended Posts