KEPEMIMPINAN YANG MELENCENG

KEPEMIMPINAN YANG MELENCENG

Firman Tuhan: 2 Tawarikh 35: 20-27

Tetapi Yosia tidak berpaling dari padanya, melainkan menyamar  untuk berperang melawan dia. Ia tidak mengindahkan kata-kata Nekho, yang merupakan pesan Allah, lalu berperang di lembah Megido.  (2 Tawarikh 35:22)

Ketika reformasi dimulai (2 Raja-raja 22), Yosia melakukan  urutan yang sangat indah: Kitab Taurat ditemukan, Ia mendengarkan  firman, menyadari keberdosaan diri dan  bangsanya,  meminta petunjuk Tuhan  melalui Nabiah  Hulda, dan baru bertindak setelah mendapat jawaban Tuhan.

Di awal pemerintahannya, Yosia mencari Tuhan sejak muda (2 Taw. 34:3). Ia merendahkan diri, membersihkan Yehuda dari berhala. Ia memimpin pembaruan perjanjian. Ia mengadakan Paskah yang luar biasa. Semuanya menunjukkan hati yang selalu mengarah kepada Allah. Tetapi dalam 2 Tawarikh 35 pola itu berubah. Saat Nekho datang, tidak dicatat bahwa Yosia bertanya kepada Tuhan, berkonsultasi kepada imam atau nabi. Bahkan ketika Nekho berkata bahwa Allah mengutusnya, Yosia tidak mengujinya. Nekho berjalan jauh dari Mesir menuju Karkemis di daerah Efrat melewati Yehuda (Israel) dalam rangka persaingan dengan Asyur yang meredup  dan  Babilonia  makin  kuat. 

Penulis  Tawarikh membuat  kontradiksi,  di awal pemerintahannya, Yosia mencari firman Tuhan sebelum bertindak. Di akhir hidupnya, ia bertindak lebih dahulu tanpa mencari firman Tuhan. Itulah salah satu pesan teologis yang sangat kuat dari pasal ini. Sebuah pelajaran kepemimpinan yang sangat relevan. Tidak ada catatan bahwa ia mencari petunjuk Tuhan. Ia tidak mendengarkan peringatan yang disebut berasal dari Allah. Ia memasuki peperangan yang bukan panggilannya. Ia terluka dan meninggal.

Sangat ironis bahwa raja yang menghancurkan berhala, tetapi ia tidak mampu  melawan  egonya.  Tentu  penulis  Tawarikh  tidak sedang  “meruntuhkan” nama baik Yosia. Sebaliknya, ia sedang menunjukkan sebuah kebenaran yang sangat penting bahwa tidak ada manusia, sekalipun yang paling saleh, yang sempurna. Alkitab tidak pernah mengarahkan iman kita kepada seorang raja, nabi, atau imam, melainkan kepada Yesus semata. Yesus Kristus memulai pelayanan-Nya dengan taat kepada Bapa dan setia sampai akhir. “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8).   Terlihat kontras dan indah: Yosia adalah raja terbaik Yehuda, tetapi tetap manusia biasa yang bisa keliru. Kristus adalah Raja yang sempurna, taat tanpa cela.

Kita melihat ada prinsip yang berlaku bukan hanya bagi Yosia, tetapi juga bagi semua pemimpin. Setelah bertahun-tahun berhasil, muncul godaan untuk mengandalkan pengalaman dan pengertiannya sendiri. Roh Kudus menuliskan hal ini agar kita merenungkan bahaya tersebut. Keberhasilan rohani menuntut kita agar terus-menerus mencari kehendak Allah.

Inspirasi:  Semakin tinggi seseorang  dipakai Tuhan, harus semakin melekat dan mengandalkan-Nya. Allah berkuasa menjaga agar tidak melenceng.

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.

share

Recommended Posts