KALAU ADA SUKACITA …

KALAU ADA SUKACITA ...

Firman Tuhan  : Keluaran 15:22-27 

“Lalu bersungut-sunggutlah bangsa itu kepada Musa, dan kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?” (Keluaran 15:24)

Sebuah artikel menulis bahwa banyak mengeluh atau bersungut, membuat orang mudah merasa lelah dan memicu bad mood. Ini kontras dengan pengamatan Salomo bahwa hati yang gembira adalah obat yang manjur…(Amsal 17:22). Obat ini tidak pernah dan tidak dapat diramu atau diracik oleh apoteker hebat sekalipun. Tidak pernah kita menemukan ada obat dengan kata-kata misalnya: “Dengan minum satu kali satu maka obat ini akan membuat anda penuh sukacita.” Mungkin seorang apoteker Kristen, akan menyuruh seorang pembeli obat penenang agar berdoa saja minta ketenangan dari Tuhan. Berapa tablet pun akan diminum, bukannya makin tenang malah makin tegang. 

Kekacauan hati umat Israel, yang sukanya mengeluh dan bersungut sepanjang jalan di padang belantara, mungkin membuat Musa bisa kehilangan sukacita juga. Siapa yang sanggup melihat dan mendengar sungutan bahkan mungkin kata-kata kasar setiap hari? Hanya soal tidak ada air saja mereka tidak sanggup bersyukur. Warren Wiersbe: “Sukacita bangsa itu berubah menjadi keluhan! Memang mudah untuk menyanyi ketika keadaan nyaman, tetapi perlu iman untuk menyanyi saat anda sedang menderita. Tuhan menguji kita dalam pengalaman-pengalaman hidup setiap hari untuk melihat apakah kita akan menaati-Nya. Dia mampu mengubah keadaan kita, tetapi Dia lebih suka mengubah kita (Filipi 4:10-13).” Kalau saja hati mereka ada sukacita, air pahit pun terasa manis. Ini yang namanya sukacita dari dalam (inner joy or unconditional joy). Tentu saja Musa sebagai pemimpin tidak boleh sama dengan umat yang dipimpinnya. Maka daripada dia larut dengan keadaan, ia berseru minta pertolongan Tuhan (ay.25 band. Yeremia 33:3). Dari sisi Musa, jika menghadapi mereka dengan sukacita, maka ia dapat menikmati suasana kepemimpinannya walaupun sulit. Di sisi umat Israel, jika mereka ada sukacita, mereka bisa bersyukur dan imannya makin terlatih. 

Dalam realita kehidupan, dalam lingkup persekutuan dan pelayanan pun, kadangkadang kita kehilangan sukacita bukan? Keluhan dan gerutu kita, tak akan mengubah keadaan. Namun apabila ada sukacita dari dalam, maka baik dalam keadaan senang atau susah, berat atau ringan, semua bisa diterima.  Kalau ada sukacita, ada berkat dua arah: orang lain melihat kita diberkati dan jiwa kita sendiri juga lega tanpa beban. 

Inspirasi: Exodus bukan sekedar cerita Alkitab. Exodus itu perjuangan iman untuk keluar dari jerat sungut dan gerutu, yang merampas sukacita kita.

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts