JANGAN TEBAL TELINGA!

JANGAN TEBAL TELINGA!

Firman Tuhan : Kisah Para Rasul 17:16-34 

“Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.” (Kis. 17:16).

Idiom “tebal telinga” (thick-skinned) adalah ungkapan dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada sikap seseorang yang tidak mau ambil pusing, tidak acuh, tegar terhadap sindiran, makian atau gossip, sehingga sering disamakan dengan “tidak tahu malu” atau “bebal.” (google AI). Dalam beberapa keterangan lain, ini juga merujuk pada sikap tidak peka (insensitive). Memang ada juga orang semacam ini. Ada yang mengatakan, “sudah terjadi kebakaran pun di dekat rumahnya, ia tidak peduli.” Dalam kehidupan sosial, model orang seperti ini bisa disebut asosial atau apatis.

Sikap rasul Paulus ketika suatu hari berada di kota Atena, tidak seperti itu. Dia sangat sensitif dengan apa pun yang terjadi di sekitarnya. Sembari menunggu Silas dan Timotius yang akan datang dari Berea (ay.14-15), ia tidak buang waktu. Ia memperhatikan kondisi kota itu, merasa sedih dengan banyaknya patung-patung berhala di sana. Tidak sekedar sedih, dia pun berinisiatif bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi di rumah ibadat, bahkan juga di pasar dengan setiap orang yang dijumpainya. “Pasar yang dimaksud adalah Agora di Atena, pusat alun-alun utama kota yang menjadi pusat kehidupan sosial, politik, komersial, dan intelektual pada zaman Yunani-Romawi. Paulus berdiskusi dengan orang-orang di sana, termasuk para filsuf Epikuros dan Stoa.” (google AI). Jika dikatakan bahwa dia menggunakan waktu secara efisien dan efektif, tepatlah itu. Bagi orang missioner, setiap detik, menit, jam, dan seterusnya harus dipergunakan dengan bijaksana (cf. Ef. 5:16). Pikiran Kristus di dalam hati Paulus, berusaha menerobos dan merembesi hati dan pikiran orang Atena, yang telah terbenam oleh filsafatnya yang destruktif. Mereka menyembah Allah  yang mereka tidak kenal, tetapi diarahkan ke patung-patung berhala? Mereka mempercayai objek iman yang tidak dapat dipercayai? Di Atena hari ini, mungkin tidak ada lagi patung-patung kuno (kuil Parthenon), namun reruntuhannya masih ada, sebagai situs sejarah. Yang jelas masih ada adalah, pikiran-pikiran filsafat yang dianggap lebih utama daripada Kristus.

Melalui percakapan telepon antar kota, sering orang mengawali dengan bertanya, “Bagaimana kabarnya?” Umumnya orang menjawab, “Baik-baik saja!” Namun bila jawaban itu bukan sekedar basa basi, sebenarnya orang harus menjawab, “Oh, ya keadaannya tidak baikbaik saja!” Karena di kota ini masih banyak orang tidak percaya kepada Kristus. Masih banyak yang terhilang dan menolak pemberitaan kabar baik, karena begitu kuatnya penyembahan berhala, bukan berhala tradisional, tetapi berhala modern juga.” Untuk itu seruan, “jangan tebal telinga” harus terus menggema dalam pelayanan kita. Prinsip pelayanan Kristus: “Aku datang bukan untuk dilayani, tetapi melayani” maka kita pun dapat berkata, “saya hadir di kota ini, bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.” Marilah kita lebih sensitif dan bertanya, “Apa yang perlu saya doakan dan dan lakukan sekarang?”  “Be sensitive in Him.”

Inspirasi: Satu hal yang ironis, kalau ada orang percaya yang bersikap tak peka terhadap lingkungannya, sementara Allah yang memanggilnya sangat peduli pada orang berdosa. 

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts