HARUS LAPANG DADA!

Firman Tuhan : Kis. 27:14-25
“Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorang pun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal
ini.” (Kis. 27:22)
Idiom “lapang dada” (open heart) adalah sikap mental yang mau menerima keadaan, ujian atau perlakuan orang lain dengan iklas, sabar dan tanpa rasa gusar. Ini berarti berdamai dengan kenyataan, tidak mudah tersinggung, dan memiliki kelapangan hati untuk memaafkan, seringkali digambarkan sebagai kunci ketenangan hidup.” (google AI). Ini sangat tidak mudah bagi orang yang belum mengalami pembaharuan hati. Secara manusia tak seorang pun mau menerima sesuatu yang tidak menyenangkan, bukan? Namun kalau mencoba menolak (tidak menerima kenyataan), akan lebih tertekan, lalu apa gunanya?
Di antara dua ratus tujuh puluh enam jiwa (276) yang sedang berlayar ke Roma (27:37), barangkali hanya Paulus satu-satunya yang masih cukup kuat, yang menjadi harapan dan andalan semua penumpang kapal itu. Sembari menahan lapar sampai empat belas hari, dalam keadaan gelap, mereka juga harus membuang muatan ke laut, termasuk juga alat-alat kapal, dibuang. Sudah begitu susah, sejumlah anak kapal berniat mau melarikan diri, namun mereka dicegah oleh Paulus. Dalam keadaan begitu panik, perkataan Paulus menjadi penghiburan yang menguatkan mereka. Ia berkata, “Tetapi sekarang juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorang pun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.” Paulus memberitahu mereka bahwa Allah ada disisinya, sehingga mereka tidak usah takut. Demi kepentingan misi Paulus yang harus ke Roma untuk menghadap kaisar, semua akan selamat dari bahaya. Paulus berbicara dengan penuh keyakinan, sehingga semua merasa tenang. Namun selain bicara, ia mencari solusi, untuk kepentingan bersama. Coba kita renungkan, andaikata Paulus sendiri, sama dengan mereka yang lain (ketakutan, putus asa, mungkin saling menyalahkan), apa yang terjadi? Seorang penafsir menggambarkan: Meskipun di awal perjalanan, Paulus hanya menjadi tawanan dan penumpang, akhirnya dialah yang menjadi nahkoda kapal itu. Kapal itu karam tetapi kehadirannya telah menyelamatkan semua penumpang.”
Di dalam persekutuan atau pelayanan, banyak juga yang mengalami masamasa sulit. Apakah seorang pemimpin Kristen cukup hanya berkata, “Tidak usah kuatir?” Tidak cukup! Kita tidak hanya mendorong berdoa, tetapi seperti Paulus, kita juga turut merasakan apa yang menjadi pergumulan saudara-saudara kita. Itu berarti kita perlu memperkuat interaksi langsung satu sama lain. Tatkala mereka menjadi lemah tak berdaya, ada pemimpin yang kuat, yang lapang dada, yang dapat melakukan sesuatu, agar dapat menjadi contoh nyata, sehingga mereka yang lain pun belajar menerima kesukaran dengan penuh ketabahan. “Be persevere in Him.”
Inspirasi: “Jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat. Namun kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat. Di balik awan tebal, ada langit biru yang tak terlihat, namun tetap ada.”
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

