“CINTA KUAT SEPERTI MAUT”

"CINTA KUAT SEPERTI MAUT"

Firman Tuhan: Kidung Agung 8:5-7

Taruhlah  aku  seperti  meterai  pada  hatimu,  seperti  meterai  pada  lenganmu,  karena cinta  kuat seperti maut, kegairahan  gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! (Kidung Agung 8: 6)

Pasangan lansia menikah lebih dari 60 tahun. Ketika sang istri sakit dan ingatannya hilang, banyak orang bertanya kepada suaminya: “Apakah istrimu masih mengenalmu?” Ia menjawab: “Dia tidak mengenali aku lagi, tetapi aku tetap mengasihi dan menyayanginya.” Dunia  menawarkan berbagai cinta yang bersifat sementara. Cinta berdasarkan penampilan, perasaan, pamrih demi keuntungan akan luntur dan rapuh. Banyak hubungan tampak kuat di awal, tetapi hancur ketika diterpa masalah. Hanya cinta sejati dalam Tuhan yang bisa bertahan dan kuat.

Kitab Kidung Agung merupakan kumpulan puisi cinta, berbeda dengan kitab-kitab hikmat lainnya yang berisi hukum atau nubuat. Dalam budaya Ibrani, cinta pernikahan dipandang sebagai anugerah Allah yang kudus. Hubungan suami-istri bukan sekadar ikatan sosial, melainkan persekutuan yang dibangun dalam kasih, kesetiaan, dan komitmen.  Banyak  penafsir  Kristen  melihat Kidung  Agung  sebagai  gambaran  kasih Kristus terhadap jemaat-Nya. Sebagaimana mempelai pria mengasihi mempelai wanita, demikian Kristus mengasihi gereja-Nya dengan kasih yang suci dan rela berkorban.

Cinta sejati bukan sekadar emosi, tetapi komitmen yang berakar pada kasih Allah. Kidung Agung 8:6: “Karena cinta kuat seperti maut.” Cinta sejati dari Allah memiliki kekuatan yang teguh, setia, dan tidak mudah dihancurkan oleh keadaan apapun.

Kidung Agung 8:5-7, merupakan puncak seluruh kitab Kidung Agung. Setelah perjalanan panjang cinta, kerinduan, pencarian, dan kesetiaan, mempelai wanita menyatakan hakikat cinta sejati. Ada tiga gambaran penting:

“Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu” Meterai adalah tanda kepemilikan dan keaslian, yang tidak terpisahkan. Dalam pernikahan Kristen, suami dan istri bukan lagi dua pribadi, melainkan satu daging (Kejadian 2:24).

“Cinta kuat seperti maut” Maut tidak bisa dihentikan oleh manusia. Kasih sejati juga  tidak mudah dikalahkan  oleh:  usia,  sakit  penyakit,  kesulitan  ekonomi,  jarak, ataupun penderitaan. Kasih yang berasal dari Allah tetap kokoh meskipun dihantam berbagai persoalan.

“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta” Air besar melambangkan bencana dan penderitaan. Jadi badai kehidupan mungkin datang, tetapi cinta yang dibangun dalam Tuhan tidak akan padam.

Dalam perspektif PB: (i) “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi  jemaat dan  telah  menyerahkan  diri-Nya  baginya”  (Efesus  5:25).  Inilah standar kasih pernikahan Kristen. Kristus tidak mengasihi jemaat karena jemaat sempurna,  tetapi  karena  kasih-Nya  sempurna.  (ii)  Kasih  menutupi  segala  sesuatu, percaya  segala  sesuatu,  mengharapkan  segala  sesuatu,  sabar  menanggung  segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan (1 Kor. 13:7-8). Dalam pernikahan Kristen, cinta sejati bersumber  pada Allah. Kasih Kristus menjadi  fondasi  yang menopang  rumah tangga. Mencintai dan mengasihi dengan tulus hati karena telah berjanji di hadapan Tuhan. Demikianlah Kristus mengasihi gereja-Nya.

Sekarang  ini  perceraian  meningkat.  Menurut  data  BPS  angka  perceraian  di Indonesia tahun 2025 mencapai 438.168 kasus, naik 10% dari 399.921 kasus pada tahun sebelumnya. Mayoritas inisiatif berasal dari pihak istri melalui cerai gugat (346.516 kasus), sedangkan sisanya adalah cerai talak (91.652 kasus). Kesetiaan memudar, orang mudah membandingkan dengan pasangan orang lain. Cinta dihancurkan oleh ekonomi sulit dan penyakit. Hanya Kristus yang sanggup menguatkan dan menjaga cinta dalam rumah tangga. Cinta manusia terbatas, tetapi kasih Tuhan tidak terbatas dan memberikan kebahagian sejati.

Inspirasi: “Cinta kuat seperti maut” Cinta kita pada suami atau isteri dalam kasih Kristus akan kokoh kuat sampai maut memisahkan.

LPMI/Rini Djatikoesoemo

share

Recommended Posts