BELAJAR BERBUAT BAIK

Firman Tuhan: Yesaya 1:10-18
“Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1:17)
Ada dua murid berjalan pulang sekolah. Di pinggir jalan ada seorang nenek kesulitan menyeberang jalan. Murid pertama berkata: “Kasihan ya.” Lalu ia pergi. Murid kedua berkata: “Kasihan ya.” Lalu ia membantu nenek menyeberang jalan. Murid kedua belajar berbuat baik. Kebaikan sejati bukan hanya rasa iba, tapi tindakan nyata.
Yesaya pasal satu merupakan teguran keras Allah pada Kerajaan Yehuda. Saat itu mereka masih rajin beribadah dan mempersembahkan korban. Namun di balik semua aktivitas keagamaannya, kehidupan sosial mereka rusak (korupsi merajalela, ketidakadilan, orang miskin ditindas, yatim piatu dan janda-janda diabaikan). Allah menghendaki pertobatan dan tindakan nyata. Berbuat baik tidak terjadi secara otomatis, dibutuhkan proses pembelajaran seumur hidup. Mari kita belajar dari perikop di atas:
Allah menolak ibadah formalitas (ay.10-15). Bangsa Yehuda tetap mempersembahkan korban dan doa, tetapi Allah berkata: “Aku sudah jemu…” (ay.11). Ibadahnya bagus, tapi hati dan perilaku mereka berbeda. Allah melihat hati dan kehidupan sehari-hari.
Allah memanggil untuk pertobatan yang nyata (ay. 16). “Basuhlah, bersihkanlah dirimu.” Pertobatan sejati menghasilkan perubahan hidup.
Belajarlah berbuat baik (ay, 17). Allah tidak hanya berkata: “Jangan berbuat jahat.” tetapi: “Belajarlah berbuat baik.” (Ibrani-l mdu heitev; dirshu mishpat-learn to do right; seek justice) Berbuat baik proses terus-menerus, tidak langsung sempurna, tapi terus bertumbuh dalam kebaikan agar menjadi karakter. Selain karakter pribadi juga relasional, “Usahakanlah keadilan, belalah yang tertindas, perjuangkan perkara janda” peduli pada kelompok paling rentan dan harus dilindungi karena Allah berpihak juga peduli pada mereka yang lemah. Galatia 6:9-10 “Janganlah kita jemu- jemu berbuat baik…”
Allah menawarkan pengampunan (ay18). “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju.” Teguran Allah selalu disertai kasih karunia. Ia ingin memulihkan manusia.
Dunia sedang terguncang oleh perang, kesenjangan sosial, kekerasan, bullying, krisis moral, ekonomi, kerusakan lingkungan, penyebaran hoaks, korupsi, ujaran kebencian, dll. Kita dipanggil menjadi pembawa damai, pembela kebenaran dalam otoritas-Nya. Ketika gereja dan orang percaya melakukan kebaikan dalam pimpinan-Nya, maka dunia bisa melihat karakter Kristus yang hidup melalui umat- Nya.
LPMI/Rini Djatikoesoemo
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

