BE CONFIDENT

Filipi 1:27-30
“…dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semua itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah.” (Fil. 1:28)
Apakah orang yang confident (percaya diri), berarti tidak perlu mengandalkan Tuhan? Percaya diri tanpa mengandalkan Kristus, jelas adalah perilaku orang duniawi. Setiap orang percaya sejati, tetap menyadari dirinya bukanlah apa-apa tanpa pertolongan Tuhan. Daud adalah orang yang memiliki percaya diri yang tinggi, terbukti dia berani melawan Goliat, si raksasa Filistin itu. Namun ia maju dengan penuh keyakinan karena dia maju atas nama Tuhan (1 Sam.17:45-47). Ia orang kecil tetapi dia bersama Allah yang Maha besar. Ia tidak punya tombak dan lembing, tetapi dia punya iman yang lebih tajam. Ia tidak mengandalkan batu di tangannya, tetapi kuasa Allah.
Sebagaimana Daud, Paulus juga adalah orang yang sangat mengandalkan kuasa Allah. Berbeda dengan hidupnya dahulu, sangat kental dengan kebanggaan diri sebagai persekutor Yahudi, yang sangat percaya diri. Namun semuanya berubah, ketika peristiwa radikal di Damsyik mengubah hatinya (Kis.9). Setelah dia menyerahkan diri pada Kristus, tak habis-habisnya pergolakan yang terjadi. Dia harus dipenjarakan karena Kristus, namun ia siap menerimanya. Dia menjadi seorang yang sangat mengandalkan kuasa Roh Kudus, dalam semua pelayanannya. Mungkin ketika dia di penjara, ada upaya-upaya buruk yang mencoba menyusahkannya (1:15-18). Namun dia berpesan pada jemaat Filipi agar mereka tidak perlu gentar. Musuh kebenaran tak akan pernah habis, yang penting kebenaran tetap diberitakan. Jemaat perlu memiliki keberanian iman, bukan keberanian dari diri mereka sendiri. Mereka harus berjuang; teguh berdiri dalam satu roh, sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita injil itu (ay.27).
Apakah kualitas sikap “be confident” – keyakinan akan kemampuan diri sebagai anugerah Tuhan, ini masih melekat pada setiap orang percaya masa kini? Ada saja masalah yang terjadi di dalam pelayanan, ketika seseorang mulai merasa diri mampu, sehingga tidak lagi merasa perlu bergantung pada pimpinan Roh Kudus. Menjadi begitu percaya diri karena memiliki kemampuan intelektual, atau karena merasa sudah berpengalaman? Inikah yang menjadi bahasa gaul: Gede Rasa (GR), karena memang ada orang yang berperilaku demikian? Mungkin peribahasa “Ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk,” dapat menjadi satu pelajaran penting. Satu pelajaran yang ditarik dari sifat tanaman, sebagai gambaran karakter orang yang tidak angkuh. Terlalu percaya diri berarti tidak menghargai Tuhan dan memuliakan-Nya. Seorang hamba Tuhan yang rendah hati, tidak bermegah diri tetapi bermegah di dalam Tuhan (2 Kor.10:17). “Be
Confident in Him.”
Inspirasi: Percaya dan yakin akan kehebatan diri sendiri, berbeda dengan percaya pada Allah Sumber kekuatan dan kemampuan di dalam diri setiap orang percaya
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

