ANTARA MERAH DAN PUTIH

ANTARA MERAH DAN PUTIH

Firman Tuhan: Yesaya 1:10-20

“Sekalipun dosamu  merah  seperti kirmizi, akan menjadi putih  seperti  salju;  sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18)

Baju putih yang terkena tinta atau cat merah tua sulit dibersihkan dan tidak bisa kembali seperti semula. Semakin kuat nodanya, semakin susah dibersihkan.

Saat itu bangsa Yehuda mengalami kemakmuran ekonomi, tetapi secara rohani merosot parah. Mereka rajin beribadah, mempersembahkan korban, namun hidup mereka dipenuhi ketidakadilan, kemunafikan, penindasan terhadap orang lemah, dan berbagai dosa lainnya. Melalui  Yesaya,  Allah  menegur  umat-Nya agar bertobat. Pasal 1 sering disebut “Sidang pengadilan Allah terhadap Yehuda.” Allah bertindak sebagai Hakim terhadap pemberontakan mereka, namun menawarkan pengampunan yang luar biasa. Sangat  kontras  antara dosa manusia dan kasih karunia Allah yang memulihkan. Dosa merupakan noda yang merusak

hubungan manusia dengan Allah. Tidak ada usaha manusia yang mampu membersihkan dosanya. Hanya Allah yang sanggup membersihkan. Dosa yang merah pekat dapat diubah menjadi putih bersih oleh kasih karunia-Nya (Yesaya 1:18). Mari kita melihat konteks ini:

Ayat 10-15, Allah menolak ibadah yang munafik. Bangsa Yehuda tetap mempersembahkan korban, tetapi hati mereka jauh dari Allah. Mereka berdoa dengan tangan terangkat, namun tangan itu penuh darah dan ketidakadilan. Allah lebih menginginkan hati yang bertobat daripada ritual keagamaan semata.

Ayat  16-17,  Allah memanggil mereka untuk bertobat. Basuhlah dirimu, bersihkanlah

dirimu,  berhentilah  berbuat jahat, belajarlah  berbuat  baik,  usahakan  keadilan,  pertobatan harus terlihat dalam perubahan hidup.

Ayat 18, Puncak pesan pengharapan. Sesudah teguran keras, Allah berkata: “Marilah, baiklah kita berperkara.” Allah mengajak umat-Nya datang kepada-Nya untuk dipulihkan.

Ayat 19-20, Ada dua pilihan: Taat menerima berkat, memberontak menerima hukuman. Kasih karunia Allah menuntut manusia hidup dalam ketaatan. Yesaya 1:18, “Kirmizi” (Shani), merupakan pewarna merah tua sangat kuat dan sulit dihilangkan. Melambangkan dosa yang mendalam dan membekas. “Kesumba” (Tola), pewarna merah dari serangga tertentu, merah menyala sangat kuat. “Putih seperti salju” lambang kemurnian sempurna. “Putih seperti bulu domba” simbol kebersihan dan pemulihan total. 1 Yohanes 1:9 “Jika kita mengaku dosa kita, maka  Ia  adalah  setia  dan  adil,  sehingga  Ia  akan  mengampuni  segala  dosa  kita  dan

menyucikan kita dari segala kejahatan.” Efesus 1:7 “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita  beroleh  penebusan,  yaitu  pengampunan  dosa.”  Ibrani  9:14  “Betapa  lebihnya  darah Kristus akan menyucikan hati nurani kita.” Wahyu 7:14 “Mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.”

Ada paradoks Injil yang luar biasa, darah Kristus yang merah justru membuat manusia menjadi putih dan bersih di hadapan Allah. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi Allah. Banyak orang  merasa terlalu  banyak dosa, kotor, sangat jauh dari Tuhan. Namun Allah sanggup mengubah merah menjadi putih. Pertobatan membawa pemulihan. Ia menghendaki pertobatan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar penyesalan, melainkan perubahan hidup.

Kita dipulihkan untuk hidup dalam kekudusan Allah. Sungguh bersyukur atas kasih, pengampunan dan pemulihan Allah.

Inspirasi: Meskipun dosa kita merah seperti kirmizi dan kesumba, dijadikan putih seperti salju dan bulu domba, dalam pengampunan dan pemulihan Allah.

LPMI/Rini Djatikoesoemo

 

share

Recommended Posts