Jangan Tawar Hati

Jangan Tawar Hati

Ayat Bacaan : 2 Korintus 4: 7-18

“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.” (2 Korintus 4: 17-TB 2)

Paulus mengalami banyak penderitaan, dipakai Tuhan mengajarkan banyak kebenaran rohani yang penting. Ia menegaskan bahwa penderitaan secara objektif tidak selalu ringan. Rasul Paulus tahu bagaimana menempatkan penderitaan dalam perspektif kekekalan. Kita akan mengupas makna penderitaan dari perspektif waktu:

Masa kini: “sebab penderitaan kami yang sekarang (parautika: sesaat) ini, yang ringan (elapron)…” sesaat dan ringan dalam perspektif lebih dalam, luas, & jauh.

Masa yang akan datang: “menghasilkan (katergazetai – sedang mengerjakan/ menghasilkan) kemuliaan (doxa) kekal (aionion: waktu kekal) yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar (baros)…..”

Bukan berarti setiap penderitaan secara otomatis menghasilkan kemuliaan. Dalam konteks ini, penderitaan yang dimaksud adalah penderitaan dalam kehidupan pelayanan dan kesetiaan pada Kristus. Allah bekerja melalui keadaan tersebut sampai pada tujuan-Nya. Allah menempatkan penderitaan sementara menuju kemuliaan kekal. Jadi bukan hanya pada wujud/ fenomena penderitaan itu, namun konteksnya apakah kita bersalah dan korelasinya dengan masa kekekalan dalam pekerjaan Allah. Penderitaan adalah momen sesaat sepanjang usia kita, dalam keseluruhan rencana penyelamatan-Nya. Ayat 17 bukan sekadar “bertahan menghadapi masalah”, melainkan bagaimana iman mengubah dan memberi nilai pada penderitaan, sehingga kita tidak tawar hati. Sebuah mental toughness, eskatological perspective – perspektif akhir zaman.

Hal tersebut melampaui logoteraphy psikologi yang sebatas memaknai penderitaan secara arif atau CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang memberi perhatian besar pada hubungan pikiran – emosi – perilaku, dimana cara seseorang menafsirkan suatu keadaan dapat memengaruhi respons emosional dan perilakunya. Logotherapy boleh menjadi jembatan psikologis, tetapi tidak mampu menggantikan dasar teologis/perspektif imaniah yang jauh lebih luas dan mendalam. Paulus tidak hanya menegaskan “berpikir positif”; namun ia mengajarkan “melihat penderitaan sekarang dari kekekalan Allah.” Paulus memberikan kerangka iman dan pengharapan eskatologis yang sudah pasti dan jelas.

Inspirasi: Tidak tawar hati bukan berarti melarikan diri dari penderitaan, tetapi menempatkannya pada nilai kekekalan Allah.

Penulis: RM Wahju Djatikoesoemo

share

Recommended Posts