MERDEKA DALAM BERIBADAH

Firman Tuhan : Galatia 4: 1-11
“Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimakakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin, dan mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?” (Gal. 4:9)
Beribadah dalam perspektif apa? Tentu yang dimaksudkan adalah beribadah kepada Allah yang benar, bukan pada ilah-ilah atau idola-idola kehidupan yang lain. Dunia modern berpikir, tatkala orang menyembah ilah lain (patung-patung dan sebagainya), itu yang disebut menyembah berhala. Tentu saja ada benarnya. Namun tanpa sadar, justru ada banyak yang tidak mengerti bahwa mereka sedang menyembah ilah modern (modern idolatry) yang telah menggeser posisi Allah yang patut disembah itu. “Modern idolatry is the subtle elevation of anything – such as money, success, technology, self-image, or relationships – to ultimate importance, looking to it for the purpose, identity, and security, that should only come from God. These modern idols often disguise themselves as good things but can lead to anxiety and emptinenss.” (AI). Ya, faktanya demikian. Tatkala hati manusia sudah ‘mengidolakan’ semua itu, mustahil dia mengalami damai sejahtera, kecuali dihantui kecemasan dan kekosongan.
Setelah bangsa Israel bebas dari cengkraman Firaun, seharusnya mereka bersyukur dan mau lebih setia beribadah kepada-Nya. Karena kasih-Nya yang besar, Ia memberi mereka perintah untuk menempatkan Allah, beribadah kepada-Nya, sebagai Pribadi yang utama, dalam hati mereka (Kel. 20:2-5). Yesus pun menegaskan bahwa mereka harus mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan segenap akal budinya (mat. 22:37). Tetapi apa yang terjadi, mereka sering membantah, berontak, bahkan berbalik menyalibkan-Nya. Petrus sendiri tatkala berbicara kepada orang Israel, ia mengulangi kembali dengan tegas, “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” (Kis. 2:23). Bagaimana mereka mengasihi dan beribadah kepada Dia, jika hatinya lebih mengidolakan sistem kepercayaannya pada yang lain?
Dalam konteks Paulus, penyembahan berhala kuno (paganism) jelas masih ada, tetapi dia lebih menyoroti sikap atau upaya mencari keselamatan melalui system kepercayaan, misalnya aturan agama atau prinsip-prinsip duniawi, yang bertentangan dengan kasih karunia Allah. Tapi inilah bukti natur manusia berdosa, yang dengan keangkuhannya enggan menyembah Allah yang benar. Saya pernah bertemu dengan seorang pria dari Miami USA, dengan maksud dapat berbicara dengannya soal keselamatan, namun dia menolak upaya pendekatan itu. Orang yang merasa hidupnya baik-baik saja tanpa Allah, justru paling tidak baik-baik saja. Tetapi Allah tetap dengan sabar masih menanti mereka bertobat. Ini terjabar dalam lirik lagu, “The Savior is waiting to enter your heart, why don’t you let Him come in. There’s nothing in this world to keep you apart, What is your answer to Him?” Dan kita berkata, “Saya membuka pintu hatiku dan menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku.” Benarkah? “You shall worship the Lord your God, and Him only you shall serve” (Mat. 4:10).
Inspirasi:
Beribadah adalah soal hati. Tatkala seseorang akhirnya lebih mencintai kesenangannya daripada kemuliaan Tuhan, di sanalah berhalanya.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

