POLA KOMUNIKASI DAN HASILNYA

POLA KOMUNIKASI DAN HASILNYA

Firman Tuhan : 2 Raja-raja 5: 1-8

Maka jawab raja Aram: “Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel.” Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian. (2 Raja-raja 5:5)

Komunikasi adalah bagian hidup manusia. Pola atau cara berkomunikasi juga mencerminkan pola pikir dan motivasi. Maka hasilnya bisa beraneka ragam tergantung cara yang dipilih.

Di kasus Naaman ini, fokus kita pada komunikasi Raja Aram dan Israel. Keduanya mengawali dengan titik tolak yang sama yaitu keterbatasan informasi atau data (ay 1-4). Kita bedah pola komunikasi mereka dengan sarana Face Negotiation Theory (Stella Ting-Toomey) dan (Politeness Theory) dari Brown & Levinson. Raja Aram mendengar dari Naaman info minim tentang nabi Samaria dengan positive thinking. Asumsinya, seperti di Aram, nabi itu (Elisa) adalah tim spiritual raja Israel. Raja ini didorong kepedulian terhadap orang lain (Other-Face Concern), yaitu kesembuhan Naaman dan stabilitas negaranya. Dia juga menerapkan Mutual-Face Concern (menjaga muka kedua belah pihak) untuk meminta bantuan tim raja Israel dengan kompensasi besar agar raja Israel beruntung dan terhormat. Sikap ekstrem Positive Politeness-nya demi kepuasan Raja Israel adalah 10 talenta perak, 6000 syikal emas, 10 potong pakaian. Gaya ini adalah integrasi diplomasi formal tanpa tentara dengan payung hukum dan politik yang jelas (ay 5-6).

Sebaliknya Raja Israel saat membaca langsung negative thinking (Individualistik/ Defensif). Orientasinya dikendalikan oleh takut kehilangan muka (Self-Face Concern). Gayanya menghindar melalui kepanikan (Avoiding) dengan narasi korban (victim mentality) merobek baju. Dia berasumsi kemungkinan negosiasi tipis, kesimpulannya deklarasi perang. Karena terlalu fokus menyelamatkan muka dari ancaman, Raja Israel lupa (atau tidak peduli) bahwa ada Nabi Elisa yang memiliki kuasa Allah. Politiknya gagal dan membutakan mata rohaninya (ay 7-8).

Hasil dari 2 raja ini jauh berbeda. Saat Naaman bersukacita dia percaya TUHAN yang disembah Elisa, tentara/pengawalnyapun menjadi saksi mujizat Allah, tentu Raja Aram mendengar proses dan hasil “kerja” nabi Elisa (bukti kuasa Allah Israel). Sementara raja Israel yang sejak lama hidup bersama nabi, tidak percaya TUHAN dan Nabi Elisa, apalagi mengalami kuasa-Nya. Marilah kecakapan manusiawi kita juga kembangkan untuk memahami kuasa Allah agar terhindar dari kebutaan rohani. Belajar memahami dan menghargai budaya orang lain itu penting, menghindari kesalahpahaman, miskomunikasi, bahkan macetnya komunikasi atau konflik terbuka. Tetap positive thinking, mohon hikmat Tuhan dalam menghadapi dan menyampaikan sesuatu.

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.

share

Recommended Posts