ILMU DI HALAMAN YANG SAMA

ILMU DI HALAMAN YANG SAMA

Firman Tuhan : Amsal 1:5

“Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.”

Saya sangat suka membaca buku lebih dari satu kali. Bukan karena tidak ada pekerjaan lain, tetapi karena apa yang saya peroleh dari pembacaan kedua seringkali berbeda dari yang pertama. Ada kalimat-kalimat yang dulu saya lewatkan, kini berbicara lebih dalam. Ada bagian yang dahulu terasa biasa saja, tetapi sekarang justru menjadi bagian yang paling banyak saya garis bawahi. Halamannya tetap sama, tetapi respons saya berbeda. Bukunya sama, tetapi pelajarannya berbeda. Mengapa? Bukan karena bukunya yang berubah, melainkan karena pembacanya, saya sendiri, yang telah berubah. Karena saya datang dengan pengalaman yang berbeda, pergumulan yang berbeda, dan cara pandang yang tidak lagi sama seperti saat pertama kali membacanya.

Membaca ulang seperti ini juga mengajarkan saya kerendahan hati. Saya menyadari bahwa apa yang saya pahami pada pembacaan pertama ternyata belum sedalam yang saya kira. Ada banyak hal yang luput saya lihat, terlalu cepat saya simpulkan, atau belum cukup matang untuk saya mengerti. Semakin sering saya kembali pada buku yang sama, semakin saya sadar betapa mudahnya merasa sudah tahu, padahal masih banyak yang belum saya pahami.

Mungkin demikian juga dalam hidup. Ketika merasa tahu banyak, kita cenderung berhenti mendengarkan orang lain. Kita merasa sudah selesai membaca bukunya, sehingga menganggap tidak ada lagi yang perlu dipelajari, dan segera ingin yang baru. Padahal sering kali kita bahkan belum membaca sampai tuntas, tetapi sudah berbicara seolah-olah memahami seluruh isinya.

Amsal kita hari ini juga mengingatkan, bahwa orang yang bijak adalah mereka yang tetap mau mendengar dan serius menambah ilmu. Orang yang berpengertian bukanlah orang yang terpaku pada apa yang sudah diketahui, tetapi dengan rendah hati terus mempertimbangkan kembali pemahamannya, baik terhadap hal-hal yang baru maupun yang sudah lama dikenalnya.

Karena itu, salah satu tanda seseorang semakin bijak bukanlah keyakinan bahwa ia sudah mengetahui banyak hal, melainkan kesadaran bahwa masih ada begitu banyak yang belum ia pahami. Orang yang bijak bukanlah orang yang paling banyak tahu, tetapi orang yang tetap rendah hati untuk kembali belajar, membuka halaman yang sama, dan menemukan kedalaman yang sebelumnya luput dari perhatiannya.

LPMI/Herwidya Estherline

share

Recommended Posts