KALAU ADA KERENDAHAN HATI…

KALAU ADA KERENDAHAN HATI...

Firman Tuhan : Keluaran 18:13-27 

“Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.” (Keluaran 18:24)

Kevin Sanjaya dan Gideon, ganda putra badminton ranking satu dunia yang sudah sangat terkenal saat ini, masih saja mau diajar oleh pelatihnya, padahal sudah juara. Saya berpikir, apakah sikap yang mau “mendengarkan” itu, memang karakter mereka, ataukah merupakan syarat yang harus mereka penuhi, jikalau mereka mau menjadi juara. Bukanlah sesuatu yang mudah bagi seseorang yang ‘merasa’ sudah hebat, lalu harus siap diajar dan diarahkan. Namun hebatnya, mereka mau mendengarkan, bukan sekedar mendengar. 

Apakah Musa sempat ‘merasa’ tidak perlu diajar lagi tentang kepemimpinan? Mungkin saja di dalam naluri manusiawinya itu ada (menganggap remeh?). Apalagi yang menasihatinya adalah Yitro, mertuanya sendiri. Apa kelebihan Yetro, dibanding dirinya yang memang sudah nyata-nyata memimpin bangsa Israel itu? Namun rupanya asumsi itu tidak terlihat pada Musa. Dari pernyataan penolakannya untuk diutus menghadap Firaun karena ia merasa tidak bisa berbicara, mengindikasikan bahwa ia orang yang rendah hati (Keluaran 6:29). Alkitab menulis, ia mendengarkan dan “melakukan segala perkataan” mertuanya itu. Arahan mertuanya yang berhubungan dengan pengorganisasian (organizing) itu, bagi Musa sangatlah efektif. Yetro tentu tidak sembarangan bicara. Ia bicara berdasarkan hikmat dan pengalamannya. Maka bagi Musa kesempatan untuk belajar selalu terbuka. Kalau saja Musa merasa hebat dan mengabaikan pandangan mertuanya, hasilnya akan lain. Yesus sendiri, Allah yang menjadi Manusia itu, begitu rendah hati (Filipi 2:1-11). Bagaimana perasaan Paulus tatkala diarahkan oleh Barnabas? (band. Kis. 11:25; Galatia 1:14). Tidak ada catatan bahwa Paulus ‘merasa’ tidak memerlukan Barnabas. Benih kesombongan ataupun bangga diri tidak ada dalam dirinya. Ini terlihat dalam pengakuannya, bahwa ia adalah yang paling hina di antara para rasul. Namun tatkala ia merasa “nothing” di sanalah Roh Kudus bekerja luar biasa (1 Kor. 15:9-10). Betapa indahnya kalau rendah hati. Di situ Tuhan akan memaksimalkan seseorang sesuai dengan kehendak-Nya. Ada bahasa berkata, “ketika kita angkat tangan, Tuhan akan turun tangan.” Kalau Musa yang hebat itu bisa rendah hati, bagaimana dengan kita?

Inspirasi: Exodus, mengajar umat Israel belajar taat. Exodus bagi kita berarti keluar dari “merasa punya kebolehan” untuk memiliki sikap hati yang “merasa bukan apa-apa.”

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts