PEMALAS ???

Firman Tuhan : Amsal 26: 13-16
Si pemalas mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, tetapi ia terlalu lelah untuk mengembalikannya ke mulutnya. (Amsal 26: 15)
Penelitian Stanford University yang dipublikasikan di jurnal Nature membeberkan banyak negara masih jauh dari standar sehat WHO, yaitu minimal 5.000 langkah per hari. Indonesia menempati posisi pertama dengan rata-rata langkah harian terendah, yakni 3.513 langkah per hari. Faktor utamanya infrastruktur yang kurang ramah terhadap pejalan kaki (trotoar rusak, dipakai parkir, untuk jualan atau tidak tersedia) dan kebiasaan masyarakat yang malas berjalan kaki.
Amsal kita hari ini berbicara tentang pola pikir pemalas dan tindakan kemalasannya. Pola pikir pemalas adalah melihat ancaman semata dan cenderung membesarkannya. Jadi ayat kita hari ini mengajarkan bahwa kemalasan bukan sekadar masalah fisik, melainkan masalah karakter dan spiritualitas. Berikut ini 3 pelajaran tentang si malas dari bacaan kita:
Penyangkalan Realitas: Si pemalas menciptakan “singa” imajiner di jalan (ayat 13). Ini menunjukkan dosa ketidakpercayaan—takut pada hal yang tidak ada daripada takut akan Tuhan. Secara praktis, bagian ini menggambarkan pola perilaku yang menghambat kemajuan hidup. Mentalitas alasan (Ayat 13), kita sering menunda pekerjaan dengan alasan “situasi tidak kondusif” atau “terlalu berisiko,” padahal itu hanyalah alasan untuk tetap diam.
Penyalahgunaan Potensi: Seperti pintu yang berputar pada engselnya tapi tidak berpindah (ayat 14), pemalas menyia-nyiakan waktu dan energi yang Tuhan berikan tanpa menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah. Zona nyaman yang membelenggu (Ayat 14): Si pemalas “berputar” di tempat tidurnya. Secara praktis, ini adalah gambaran orang yang sibuk tapi tidak produktif—banyak bergerak tapi tidak melangkah maju. Kehilangan Inisiatif (Ayat 15): Penulis menggambarkan seseorang yang tangannya sudah di dalam pinggan (makanan sudah tersedia), tapi terlalu malas untuk menyuap. Ini adalah peringatan bagi orang yang membiarkan peluang emas hilang begitu saja karena enggan berusaha sedikit lagi.
Pongah…kesombongan intelektual, ayat 16 menyebut pemalas merasa lebih bijak dari tujuh orang yang menjawab dengan bijak. Secara teologis, kemalasan sering berakar pada kesombongan, merasa tidak perlu belajar atau dikoreksi. Pemalas biasanya keras kepala/ sulit dinasehati karena dia merasa cara hidupnya adalah yang paling benar.
Amsal ini mengajak kita untuk bangkit dari “engsel” kenyamanan, membuang alasan-alasan yang tidak masuk akal, dan memiliki kerendahan hati untuk terus belajar dan bekerja keras. Mengevaluasi diri lewat kitab Amsal seringkali menjadi “pil pahit” tapi sangat menyehatkan bagi pertumbuhan karakter kita. Kiranya Allah memampukan kita mengikis kemalasan, rendah hati, produktif dan rajin dalam otoritas-Nya.
Inspirasi: Kemalasan bukan sebuah fenomena permukaan yang sepele, kiranya Roh Kudus membakar semangat kita untuk tekun bekerja, dan berusaha keras bagi kemuliaan nama-Nya.
LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

