MEMBERI SECARA PROPORSIONAL

Firman Tuhan : 2 Korintus 9:6–15
“… pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.” (2 Korintus 9: 12)
Seorang dokter profesional selalu peduli, kompeten, tahu kebutuhan pasien, dan memberikan solusi yang tepat. Demikian juga memberi secara profesional berarti tahu kebutuhan yang nyata, memberi dengan strategi, memastikan dampaknya berkelanjutan, “memberi kail” bukan hanya “memberi ikannya”. Seorang janda tua yang hidup sederhana sangat murah hati merelakan rumah kecil dan hasil kebunnya untuk para calon Pendeta yang melayani di kampungnya. Meski awalnya janda tersebut menolak Kristus, tapi kemurahan hati membawanya bertemu dengan Sang Juru Selamat bahkan akhirnya seluruh keluarga ikut Tuhan. Pemberian janda tersebut sangat proporsional dan menjadi berkat, hidup penuh syukur dan berkelimpahan.
Surat 2 Korintus ditullis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Dalam pasal 8–9, Paulus sedang mendorong jemaat untuk ambil bagian dalam pengumpulan dana bagi jemaat di Yerusalem yang sedang mengalami kekurangan. Ini bukan sekadar soal uang, tetapi wujud kesatuan tubuh Kristus. Latihan kemurahan hati dan tanggung jawab adalah bukti iman yang nyata, bukan hanya kata-kata. Paulus mengajarkan bahwa memberi harus dilakukan dengan sukacita (ay. 7), dengan iman (ay. 8), dan dengan tujuan ilahi (ay. 11–12). Di zaman sekarang, kata “profesional” sering dikaitkan dengan dunia kerja: terstruktur, bertanggung jawab, terukur, dan berdampak. Apakah memberi juga bisa dilakukan secara profesional? Sering kali memberi hanya secara spontan tanpa perencanaan, hanya saat tergerak emosi, atau bahkan sekadar kewajiban. Alkitab mengajarkan bahwa memberi adalah pelayanan yang serius (ministry), bukan aktivitas sampingan. Konteksnya di sini, ada beberapa hal:
Prinsip menabur dan menuai (ay. 6). Memberi bukan kehilangan, tetapi investasi rohani.
Sikap hati (ay. 7). Tuhan melihat motivasi, bukan jumlah.
Penyertaan Allah (ay. 8–11). Allah bukan hanya menerima persembahan, tetapi juga menyediakan sumbernya.
Tujuan Memberi (ay. 12). Memberi memiliki dua dampak, memenuhi kebutuhan orang lain dan menghasilkan ucapan syukur kepada Allah. Kata diakonia – pelayanan; leitourgia – pelayanan publik / ibadah (asal kata “liturgi”). Memberi adalah tindakan ibadah, bukan sekadar bantuan sosial. Makna teologisnya: Memberi secara profesional berarti: a). Memberi sebagai pelayanan (ministry), bukan amal biasa, tetapi bagian dari panggilan iman. b). Memberi dengan dampak nyata. Jadi ada kebutuhan konkret yang terpenuhi.
Memberi yang memuliakan Tuhan, bukan pujian untuk manusia, tetapi ucapan syukur kepada Allah. Situasi global dan di Indonesia saat ini menghadapi inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok, ketidakpastian ekonomi, meningkatnya biaya pendidikan dan kesehatan, daya beli masyarakat menurun di beberapa sektor, kesulitan keuangan dirasakan hampir di seluruh tataran komunitas. Mari berdoa mohon hikmatNya agar dimampukan memberi seturut kehendak-Nya secara proporsional (terencana), sisihkan secara rutin bukan sisa, peka dengan data agar tepat sasaran, benar-benar mendesak, memberi secara berkelanjutan dengan integritas. Segala kemuliaan hanya bagi Allah.
Inspirasi: Memberi bukan sekadar transaksi ekonomi, namun tindakan rohani dengan penuh syukur yang berdampak kekal bagi kemuliaan Tuhan.
LPMI/Rini Djatikoesoemo
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

