BE CONVERSABLE

Firman Tuhan : Filipi 4:21-23
“Sampaikanlah salamku kepada tiap-tiap orang kudus dalam Kristus Yesus. Salam kepadamu dari saudara-saudara, yang bersama-sama dengan aku.” (Fil. 4:21).
Apa sebenarnya tujuan kita ketika menitipkan salam untuk seseorang? Sekedar basa basi atau kebiasaan? Lalu apa artinya bagi orang yang menerima salam itu? Apakah di sana ada dorongan, ada penghiburan, ada pesan yang disampaikan? Namun kesan yang langsung terlihat pada orang yang menitip salam adalah sikap keterbukaan (openness), mudah didekati (approachable), suka membangun hubungan sosial (sociable).
Apa yang terlihat pada salam Paulus, seperti itulah. Ia tidak berbasa basi, tetapi benar-benar aktif membangun hubungan dan keterbukaan dengan jemaat Filipi, dan dengan siapapun. Coba perhatikan semua suratnya, selalu diakhiri dengan salam. Itu bukan semata-mata kehendak rasul Paulus, tetapi kehendak Roh Kudus itu dituliskan dalam setiap akhir surat hamba-Nya. Orang yang terbiasa dengan pendekatan Inductive Bible Study, suka bertanya apa arti dan maksudnya salam itu. Dan ternyata ada arti yang signifikan di dalamnya. Memang tidak ada satu pun kata-kata di dalam Kitab Suci yang yang tidak bermakna. Dalam sebuah artikel ditulis, “Salam dalam surat-surat Paulus bukan sekedar basa-basi sosial, melainkan sarana teologis untuk mnegaskan otoritas kerasulannya, menjalin persekutuan, dan menyampaikan anugerah keselamatan.” Jemaat yang mendengar atau menerima salam itu, pasti bersukacita dan bertambah semangat. Bagi orang yang rohani, salam dari orang yang mengasihi Tuhan itu, adalah kekayaan yang jauh lebih mahal dari harta materi. Salam dari Paulus sebagai orang percaya, bukan sekedar salam biasa, tetapi salam Injil atau salam missioner, atau pun salam pemuridan. Kita dapat membayangkan bagaimana posisi Paulus yang sedang terpenjara, tetapi salamnya berkuasa memberkati banyak orang. Sebaliknya, banyak orang Kristen yang tampaknya bebas ke mana-mana, tetapi sebenarnya hatinya terpenjara oleh dosa.
Kita mungkin perlu mengubah kebiasaan memberi salam sebagai ‘basa basi,’ ke dalam suatu perkataan yang “bernilai misi,” yang penuh berkat bagi orang lain. Di dalamnya ada pesan (messages) yang memperkuat hubungan Warren Wiersbe berkata: ”Perhatikanlah kata-kata yang digunakan oleh Paulus pada waktu menutup suratnya: Damai sejahtera – kasih – iman – kasih karunia! Paulus adalah seorang tahanan di Roma, namun ia lebih kaya daripada kaisar. Dalam keadaan bagaimana pun kita ini, di dalam Kristus kita “diberkati dengan segala berkat karunia rohani!” Dalam Roma pasal 16 misalnya, kata-kata salamnya berisi suatu kesaksian dan dorongan yang begitu detail, bagi mereka yang melayani. Banyak orang membutuhkan dorongan (encouragement), dengan salam yang komunikatif dan konstruktif ini. “Be Conversable!”
Inspirasi: Panggilan melayani tidak hanya ditandai dengan semangat untuk memberitakan kabar baik, tetapi juga ditandai dengan hubungan yang saling membangun satu sama lain.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

