BELAJAR DARI KLAUDIUS LISIAS

BELAJAR DARI KLAUDIUS LISIAS

Firman Tuhan : Kisah Para rasul 23: 18-35

Maka kepala pasukan itu memegang tangan anak muda itu, lalu membawanya ke samping dan bertanya: “Apakah yang perlu kau beritahukan kepadaku?” Jawabnya: “Orang-orang Yahudi telah bersepakat untuk meminta kepadamu, supaya besok engkau menghadapkan Paulus lagi ke Mahkamah Agama, seolah-olah Mahkamah itu mau memperoleh keterangan yang lebih teliti dari padanya. (Kisah Para Rasul 23:19-20)

Seorang perwira tinggi memimpin operasi penyelamatan termasuk bagi beberapa warga asing. Saat peralatan modern dari negara maju membantu pelacakan, koordinat penculikan di belantara terdeteksi. Namun intuisi seorang tamtama dari daerah tersebut meragukan, sebab lokasi itu tidak ada air. Setelah negosiasi alot dengan pihak yang membantu, akhirnya perwira tersebut mempercayakan penyidikan manual pada sang tamtama dan misi besar itu berhasil.

Klaudius Lisias, sesuai pengakuannya (KPR 22: 28) bukanlah bangsawan Romawi. Ia  kepala pasukan (chiliarchos) dengan karier cemerlang sampai menjadi Tribunus/ Komandan Brigade dengan 1000 an pasukan. Lisias adalah nama Yunani, dan Klaudius menunjukkan dia membeli kewarganegaraan di jaman Kaisar Klaudius. Lisias bukan umat percaya namun memiliki kepemimpinan unik dan inspiratif. Saat menghadapi anak muda anonym, dia mau menerima (epilabomenos-memegang tangan dengan kencang dan ramah, sikap kebapakan atau perlindungan yang luar biasa dari seorang pejabat tinggi Romawi kepada seorang pemuda Yahudi asing) dan menghargai informasi. Kata disamping (idios) menunjukkan lokasi tersendiri karena menghargai nilai sebuah info. Ia bertanya (punthanomai: menggali info secara detail) secara profesional, namun juga memiliki wisdom dan kesediaan mendengar secara privat. Selanjutnya dia juga cepat membuat eksekusi yang tepat dan akurat (ay 23). Secara militer dia tidak mau underestimate menghadapi 40 orang Yahudi yang kalap saat mengevakuasi Paulus (200 infantri, 70 kavaleri berkuda dan 200 pasukan lembing-total 470 prajurit) dengan surat dinas yang kuat pada gubernur Feliks tanpa mencampuri intrik Yahudi namun obyektif (ay 25-29). Ia memberi kontribusi penting agar Paulus bisa tiba dan bersaksi di Roma nantinya, sesuai kehendak Allah (ay 11).

Dalam level apapun, kita belajar menjadi pemimpin yang peka dan mau mendengar secara teliti dan bijak (open doors policy), berani mengambil tindakan tegas dan bertanggungjawab (protective leadership). Kepemimpinan yang kuat ditopang oleh kerendahan hati yang orisinil. Mari kita terus bekerja keras dan makin peka untuk dibentuk dan dipimpin oleh Roh Kudus demi keberlangsungan rencana Allah di dalam dan melalui hidup kita.

Inspirasi:  Roh Kudus mengajar kita melalui berbagai hal dalam segala situasi dan kondisi.

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.

share

Recommended Posts