HARUS PERAS OTAK!

Firman Tuhan : Kisah Para Rasul 20:1-12
“Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat, dia sudah mati.” (Kis. 20:9).
Idiom “peras otak” (brain-racking) adalah “ungkapan atau idiom bahasa Indonesia yang berarti berpikir keras atau berusaha sungguh-sungguh untuk mencari solusi/ide. Ungkapan ini menggambarkan penggunaan kemampuan kognitif secara maksimal, atau memaksa pikiran bekerja keras.” Tentu saja kalau ini dimengerti secara literal, tidaklah mungkin. Penggunaan idiom memang unik, tetapi itulah cara yang menarik untuk menjelaskan sesuatu maksud.
Apakah ketika Paulus berbicara tentang kebenaran Injil, ia berpikir keras? Sudah pasti! Itu nyata dari kisah yang kita baca, sampai Eutikhus terjatuh, karena lamanya mendengarkan Paulus. Bukan saja bicara isi percakapan, tetapi juga durasi dia berbicara, menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh memaksimalkan kemampuannya untuk mengomunikasikan apa yang harus dia sampaikan. Seorang profesor filsafat saja, berusaha agar apa yang dia sampaikan dapat dipahami, apalagi ketika menerangkan kebenaran firman Tuhan, yang tidak boleh salah. Lukas (penulis Kisah Para Rasul), tidak mencantumkan berapa jam Paulus berbicara ketika itu, tetapi yang jelas “lama berbicara – sampai tengah malam” menuntut energi berpikir yang besar. Bagi Paulus hal itu sudah merupakan suatu komitmen, di mana dia mempersembahkan “otak” nya bagi kemuliaan Tuhan (cf.Kol.3:2). Sebuah artikel mengatakan, “Rasul Paulus memiliki kecerdasan intelektual tinggi, kefasihan berbicara yang setara dengan para ahli, serta pemahaman teologis yang mendalam. Kecerdasannya ditunjukkan dengan kemampuan retorika, strategi penginjilan yang relevan dengan budaya, dan ketahanan spiritual untuk bertahan dalam penderitaan, menjadikannya misionaris yang sangat sukses.” Sampai rasul Petrus pun menilai, bahwa dalam tulisan-tulisan Paulus, ada hal-hal yang sulit dimengerti, sehingga orang bisa salah paham (2 Petrus 3:15-16). Seorang sarjana pernah berkata, “1 Korintus 15 merupakan sebuah tesis, karena di sana Paulus memaparkan hal-hal yang dalam secara luar biasa, tentang kebangkitan.” Terkait katakatanya dalam Roma 12:2, soal akal budi, sebuah artikel juga menulis, “Meskipun melibatkan fungsi kognitif, fokusnya adalah pada hikmat rohani dan pengenalan akan Kristus, bukan sekedar memori atau persepsi.” Dia telah berusaha memberikan yang excellent. Itu nyata dari semua suratnya dalam PB, yang berisi pembahasan doktrinal dan praktikal secara seimbang. “Mengingat begitu dalam dan rumitnya cara Paulus membangun dan menjelaskan Injil Yesus Kristus, tidak heran jika sejarah penyelidikan Paulus memunculkan sejumlah besar penafsiran.” (Herman Ridderbos: Paulus, Pemikiran Utama Theologinya, p.1).
Bagaimana dengan kita? Semaksimal apakah kita telah mempersembahkan pemikiran – akal budi kita bagi kemuliaan Tuhan? “Set your minds on things above..” (Col. 3:3).
Inspirasi: Ilmuwan yang rohani sadar bahwa, kepandaiannya adalah anugerah Allah. Ilmuwan duniawi sering merasa pintar, tapi tidak mengerti bahkan menolak kebenaran.
LMPI/Boy Borang
Recommended Posts

MEMULIHKAN KESALAHAN DENGAN KASIH YESUS
September 17, 2026

KESETIAAN DALAM PELAYANAN
September 16, 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS
September 15, 2026

