MAKNA BARU PUASA

MAKNA BARU PUASA

Firman Tuhan : Zakharia 8: 1-19

“Beginilah firman TUHAN semesta alam: Waktu puasa dalam bulan yang keempat, dalam bulan yang kelima,  dalam bulan yang ketujuh  dan dalam bulan yang kesepuluh  akan menjadi kegirangan dan sukacita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai!” (Zakaria 8:19)

Di jaman Majapahit ada 3 level puasa:  Tingkat Dasar (Puasa Fisik), yaitu menahan keinginan jasmani, seperti tidak makan dan minum dalam jangka waktu tertentu untuk melatih kedisiplinan raga. Tingkat Menengah (Pengendalian Indra), tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga pancaindra dari hal-hal negatif (seperti menjaga pandangan, pendengaran, dan ucapan). Tingkat Tertinggi (Puasa Batin), tahap di mana seseorang mampu mengendalikan pikiran sepenuhnya dari segala bentuk keterikatan duniawi dan nafsu, sehingga mencapai ketenangan batin yang murni. (kitab Nirarthaprakerta-Asisi Chanel). Hal ini baik dan semuanya bermuara untuk kepentingan personal pelaku puasa.

Bacaan kita berbicara tentang perubahan waktu puasa menjadi waktu kegirangan dan sukacita bagi kaum Yehuda. Tahun 520 SM, sebulan sesudah nubuat kedua Hagai (Hag 2:2), Allah mengangkat Zakharia, yang berusia lebih muda, untuk membantu Hagai mendorong umat itu membangun kembali Bait Suci. Hal ini bagian dari suntikan semangat kepada umat itu untuk melihat apa yang mereka lakukan dari sisi rencana Allah untuk mendatangkan pemulihan yang lebih besar ( pemulihan rohani di masa depan). Bulan-bulan yang dimaksudkan Zakharia adalah: bulan ke-4 (Tamus) yaitu puasa karena jatuhnya Yerusalem (2 Raja-raja 25:3-4). Bulan ke-5 (Ab) adalah puasa karena hancurnya Bait Allah (2 Raja-raja 25:8-9). Bulan ke-7 (Tisri) adalah puasa karena pembunuhan Gedalya (2 Raja-raja 25:25-26). Dan bulan ke-10 (Tebet) adalah puasa karena pengepungan Yerusalem (2 Raja-raja 25:1-2).

Semua puasa di atas bernuansa kesedihan dan ratapan memohon pemulihan. Uniknya Zakaria memberikan perspektif baru perihal puasa ini. Dia tidak lagi memikirkan teknis cara dan waktu berpuasa, namun pada tujuan serta motivasi puasa itu sendiri. Tuhan berjanji bahwa waktu-waktu puasa ini akan berubah menjadi waktu kegirangan dan sukacita karena pemulihan dan keselamatan bagi kaum Yehuda. Kita bisa menduga teknis puasanya tetap namun perspektifnya berbeda. Mungkinkah orang berpuasa dengan kondisi demikian? Puasa ini menjadi momentum sukacita karena pemulangan kembali bangsa itu dari pembuangan 70 tahun di Babel. Harapan yang sirna akibat tercerai berainya kerajaan Israel utara dan Yehuda mulai tumbuh kembali meski negara Israel sudah lenyap, tinggal tersisa bangsa keturunan Yakub yang sedikit jumlahnya (bangsa Yahudi) dan tetap terjajah.

Apakah saat ini kita tetap berpuasa? Kita harus berpuasa karena puasa adalah salah satu bentuk kerendahan hati dan ekspresi iman dalam disiplin rohani. Apapun permasalahan,  pergumulan, tantangan serta ancaman (karier, studi, kesehatan, kehidupan keluarga, dll), marilah kita bawa dalam puasa yang kusyuk, dengan mengingat semua pertolongan Allah. Tuhan selalu baik, dari dulu, sekarang sampai selama-lamanya. Kita bangun optimisme rohani, mental dan sosial sehingga hidup kita penuh sukacita. (I Tes 5: 16)

Inspirasi: Berpuasa merupakan wujud kerendahan hati dan ekspresi iman, bersandar pada Allah yang selalu peduli dan setia menolong,

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.

share

Recommended Posts