PUNCAK KERENDAHAN HATI

PUNCAK KERENDAHAN HATI

Firman Tuhan  : 1 Timotius 1: 1-15

Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. (1 Timotius 1:15)

J.R.D. Tata, pendiri Tata Group India adalah sosok yang sangat membumi pernah berkata, “Saya tidak ingin India menjadi negara adidaya ekonomi. Saya ingin India menjadi negara yang bahagia”. Beliau juga berpesan, “Seberapa pun besarnya Anda, selalu ada orang yang lebih besar. Bersikaplah rendah hati. Itu tidak membutuhkan biaya apa pun”.

Di dalam surat Timotius, Paulus telah mencapai puncak pelayanan dengan sederet  perjalanan misi yang besar. Wilayah pelayanannya amat luas, menjangkau banyak umat non Yahudi dan ia sedang dalam penjara di saat terakhir hidupnya. Dalam “puncak prestasi pelayanan” inilah statement luar biasa ini muncul. Jika dalam surat Korintus dan Efesus Paulus melihat dirinya dari sudut jabatan rasuli lalu komunitas orang kudus, maka di masa tuanya secara khusus melalui anak rohaninya Timotius, Paulus semakin menyadari kebutuhan keselamatan, pengampunan dan belas kasih Tuhan. Dia dengan tulus membandingkan dirinya di antara orang-orang berdosa di seluruh dunia yang sedang membutuhkan pengampunan Tuhan. Kata “Paling Berdosa” di ay 15  frasa Yunani hōn prōtos eimi egō.Prōtos adalah kata sifat yang berarti “pertama”, “utama”, atau “paling depan”. Kata ini tidak hanya bicara soal urutan waktu, tapi juga peringkat atau kualitas. Kata kerja “Eimi-adalah” dalam bentuk Present Indicative Active sehingga arti harafiahnya “Sekarang saya adalah yang paling berdosa”. Ini adalah kesadaran diri sangat mendalam akan anugerah Tuhan yang terus ia butuhkan setiap saat. Rasul Paulus ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk, di puncak pelayanannya dia menunjukkan level kerendahan hati yang makin tinggi.

Di dunia digital di mana semua orang ingin terlihat sempurna, kita diajak untuk jujur dengan kelemahan kita. Kita lawan budaya Fake, flexing, dll. Kita tidak perlu berpura-pura suci untuk diterima Tuhan atau sesama. Mengingat kita adalah “Orang berdosa yang perlu dikasihani”, kita tidak boleh merasa lebih benar (selfrighteous) saat melihat kesalahan orang lain termasuk di internet. Gunakan respon positif kita untuk menebar kesabaran dan kerendahan hati, bukan hujatan. Dengan teladan Rasul Paulus kita juga harus membangun etika Alkitabiah di berbagai berbagai platform kehidupan termasuk media sosial.

Inspirasi: Kerendahan hati yang otentik adalah karya organis Roh Kudus yang bekerjasama dengan kemauan kita untuk menyenangkan Tuhan dan memberkati sesama.

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.

share