TITIK TOLAK KERENDAHAN HATI

TITIK TOLAK KERENDAHAN HATI

Firman Tuhan  : 1Korintus 15: 1-9

Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. (1 Korintus 15:9)

Di era media sosial banyak orang berlomba memamerkan pencapaian (flexing) termasuk munculnya sultan-sultan baru yang memiliki sederet property dan posisi. Beberapa mencoba bersikap seolah-olah rendah hati, namun seringkali hanya merendahkan diri sendiri secara palsu (humble bragging). 

Paulus menulis 1 Korintus saat berada di Efesus. Ia sedang menyelesaikan pelayanan selama hampir tiga tahun di kota tersebut dalam perjalanan misionaris ketiganya. Diperkirakan ditulis sekitar tahun 55–56 M dalam kondisi rasul masih bebas, belum ditahan dan memberitakan Injil secara terbuka pula. Saat itu kerasulannya masih ada yang meragukan, maka di surat 2 Korintus beliau mempresentasikan keabsahan kerasulannya. Dalam surat ini ada permainan kata dalam bahasa aslinya. Paulus (Paolos Latin artinya kecil) menyebut dirinya elachistos tōn apostolōn (terkecil di antara para rasul- superlative). Sebelum mengenal Kristus, Paulus (Saulus) adalah penindas atau “eksekutor” yang kejam (diōktēs). Ia merasa cacat secara moral karena pernah mencoba menghancurkan jemaat. Di ayat 8, ia menyebut dirinya sebagai ektroma, yang artinya “anak yang lahir tidak pada waktunya” atau “keguguran”. Dalam dunia medis kuno, ektroma adalah sesuatu yang tidak sedap dipandang atau cacat. Paulus menggunakan kata ini untuk menunjukkan betapa buruk dan jauhnya dia dibandingkan para rasul senior yang sudah setia sejak awal. Dengan menyebut dirinya “produk gagal” atau “cacat,” semakin ia menonjolkan tangan Tuhan yang sanggup memakai “anak gugur” itu untuk menjadi rasul yang paling giat bekerja. Ia merasa tidak melalui proses pemuridan normal seperti Petrus atau Yohanes yang mengikut Yesus selama 3 tahun. Ia merasa “dipaksa” lahir oleh anugerah Tuhan di jalan menuju Damsyik. Di situlah dia sadar akan anugerah (Charis).  Baginya, semakin ia menyadari betapa buruknya di masa lalu, semakin besar ia melihat kasih karunia Tuhan. Ketidaklayakannya adalah “panggung” bagi kekuatan Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya. Itulah mengapa ia menjadi sosok yang rendah hati. Pada masa mudanya, secara struktural di antara para rasul ia merasa paling rendah (memulai start untuk kerendahan hati).

Paulus tidak menghapus sejarah kelamnya sebagai penganiaya jemaat, kerendahan hatinya meripakan “Kesadaran Diri yang Radikal.” Sebuah pengakuan bahwa posisi kita sekarang sepenuhnya adalah karena “anugerah” atau kesempatan, bukan kehebatan pribadi. Kerja keras yang luar biasa dan upaya sungguh-sungguh untuk merendahkan diri dari rasul Paulus adalah  teladan, cermin refleksi dan ukuran yang jujur tentang seberapa nilai/ kualitas rohani seseorang. 

Inspirasi: Setiap momentum dalam keterbatasan kita, Tuhan sanggup menolong agar kita semakin rendah hati dalam kasih dan kedaulatan-Nya.

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd

share

Recommended Posts