NILAI PENYERAHAN

NILAI PENYERAHAN

Firman Tuhan : Mazmur 37:1-11 

“Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak..” (Mazm. 37:5).

Dunia ateisme atau agnosisme, tidak pernah merasa berurusan dengan soal penyerahan diri kepada Allah, bukan? Bagi mereka, Pribadi (Allah) itu tidak ada, dan kalau pun ada, tidak mungkin didekati. Orang yang sudah terjerat oleh paham itu, merasa diri bisa mandiri, dan tak ada kaitan dengan Allah itu sendiri. Soal paham ateisme, Ron Carlson dalam bukunya, “Fast Facts on False Teachings, menyorotinya sebagai keanehan. Mengapa? Karena baginya syarat untuk menjadi ateis itu haruslah orang yang tahu segala-galanya. Jadi bagaimana seorang ateis bisa menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada, sedangkan dia tidak mahatahu? Ini yang dia katakan, “It is philosophically impossible to be an atheist, since to be an atheist you must have infinite knowledge in order to know absolutely that there is no God. But to have infinite knowledge, you would have to be God yourself. It is hard to be God yourself and an atheist at the same time!” 

Berbeda dengan pemazmur sendiri, yang sangat agresif membangun hubungan dengan Allah. Derek Kidner, komentator kitab Mazmur, menyebut mazmur ini sebagai “mazmur hikmat; yang berbicara kepada manusia, bukan kepada Allah, di mana bunyi dan gaya bahasanya memiliki afinitas dengan kitab Amsal, yang memiliki pesan tentang keamanan orang benar, yang merupakan topik sentral.” Sebuah sumber menulis, “Daud sendiri menggubah tujuh puluh tiga mazmur, selain Asaf dua belas, Bani Korah sepuluh, Salomo satu atau dua, Ethan & Heman dua mazmur.” Roh Kudus telah dan terus memakai semuanya menjadi berkat dan kekuatan hidup umat percaya sepanjang masa. 

Khusus dalam Mazmur tiga puluh tujuh, ditekankan pengajaran tentang pentingnya penyerahan diri kepada Allah. Orang yang berserah penuh pada Allah, tidak diliputi irihati atau kekuatiran, melainkan hidup oleh iman, bergembira dalam Dia, berdiam diri di hadapan Tuhan, selalu rendah hati, hidup dalam kebenaran dan pengharapan. Ketika membahas ini, Derek Kidner merujuk pada Paulus dan Silas ketika mereka berada dalam penjara. “Paul and Silas in prison, singing as well as praying and entrusting of one’s career, and reputation to Him.” (Fil. 16).  Warren Wiersbe juga menulis, “Apabila anda percaya kepada Tuhan dan bergembira di dalam Dia, bagaimana mungkin anda tidak menyerahkan jalan hidup anda kepada-Nya? Biarlah Tuhan memimpin langkah-langkah anda, memilihkan hal-hal yang membuat anda gembira, melindungi nama anda, dan memberkati pekerjaan anda.” Konon Hymne “I surrender All” – “Aku Berserah” gubahan Judson Van DeVenter (1855-1939), terinsiprasi oleh keputusannya menjadi seorang hamba Tuhan sepenuh waktu. Lagu ini telah menggugah banyak orang muda mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan. Sekarang kita ditanya, pada skala mana kita menempatkan nilai penyerahan diri, dalam hidup kita yang sementara ini?

Inspirasi: Sadar bahwa seorang murid Kristus adalah milik Kristus, maka penyerahan hidup sepenuhnya, sesuatu yang mutlak, tak ada yang perlu diragukan, bila itu bagi kemuliaan-Nya

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts