NILAI PENYANGKALAN

Firman Tuhan : Mazmur 22:77-12
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.” (Mazm. 22:2).
Dunia yang serba fleshly ini, telah menjadi medan ujian yang amat berat bagi orang saleh. Berat mengapa? Karena kehidupan yang saleh selalu bertarung dengan kehidupan yang salah. Benarlah apa yang dikatakan oleh seorang pemimpin parlemen Kristen pada suatu saat, bahwa di dunia ini hanya adalah dua hal: “salah atau saleh.” Yang hidupnya salah tak mungkin bisa saleh atau sebaliknya. Yang saleh harus menyangkal diri (denying himself) agar tidak salah.
Pemazmur dengan menggunakan bahasa puitis, ingin mengatakan bahwa tatkala ia hidup benar dan mengasihi Tuhan, malah kadang-kadang merasa seperti ‘dibiarkan’ Tuhan. Derek Kidner: “protective presence is withdrawn” – kehadiran Allah yang protektif seolah ditarik.” Terasa Allah menarik diri darinya. Apakah benar demikian? Kesannya bisa demikian, karena adanya tantangan dan penderitaan yang ia alami. Seperti kata Allen Ross, penafsir kitab Mazmur, “Though sensing that God had forsaken him (v.1), the psalmist drew renewed confidence from the fact that God had answered his ancestor’s prayers (v.4).” Bahwa meskipun ada perasaan seperti itu, namun Daud juga yakin bahwa Allah sendiri telah menjawab permohonan doa nenek moyangnya (ay.4-5). Terlihat bahwa apa yang dikatakan pemazmur ini, sangat berkenaan dengan penderitaan Kristus di kayu salib. “Sebab Daud adalah seorang nabi (Kis. 2:30), ia mampu menulis tentang Mesias berabad-abad sebelum kedatangan-Nya. Penyaliban bukan bentuk hukuman mati yang berlaku bagi orang Yahudi. Namun Daud menggambarkannya dengan akurat. Ketika anda membacanya, anda melihat Yesus di Kalvari (seruan-Nya kepada Bapa (ay. 2; Mat.27:46), masa kegelapan (ay 3; Mat.27:45); cemoohan orang-orang (ay.7-9; Mat 27:39-44); kehausan dan kesakitan -Nya (ay.15-16; Yoh.19:28); tangan dan kaki-Nya yang dilubangi (ay 7; Luk 24:39); dan undian bagi pakaian-Nya (19: Yoh.19:23-24). Ingatlah bahwa Yesus menanggung semua hal itu bagi anda.” (Warren Wiersbe). Seruan Yesus pada BapaNya menunjukkan bahwa, memang demi menanggung dosa manusia, Ia rela mengabaikan penderitaan itu, sampai mati di kayu salib, sebagai bentuk penyangkalan diri yang sempurna, dalam kapasitas-Nya sebagai Manusia. Dan dalam pengajaran-Nya, Yesus menegaskan bahwa, setiap orang yang mengikuti Dia harus menyangkal diri dan memikul salib-Nya (Luk. 9:23). Melihat kualifikasi kepengikutan (followership) seperti ini, menunjukkan dengan jelas bahwa kekristenan sangat berbeda dengan agama-agama. Kalau menjadi Kristen sejati itu ditandai dengan kesediaan untuk menderita, sedangkan menjadi penganut agama, tentu mencari yang menyenangkan, atau yang dia rasa cocok. Ia dapat memilih kepercayaan mana yang dia mau. Berbeda dengan kekristenan, Tuhan sendiri yang memilih orang yang dikehendaki-Nya (Yoh. 15:16; Ef.1:4). Secara manusia, siapa yang mau memilih yang susah? Namun itulah yang juga harus terjadi pada setiap murid Kristus, yang dipanggil bukan hanya untuk percaya, tetapi untuk menderita (Fil.1:29). Sudah siapkah kita? Seharusnya! Karena kita sudah memiliki sesuatu yang lebih bernilai.
Inspirasi: Penyangkalan diri sendiri bukanlah bobot yang dikejar oleh orang dunia ini, itu hanya nilai yang dicari dan dimiliki seorang murid sejati.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

TOP SECRET
April 20, 2026

FIRMAN TUHAN TIDAK AKAN GAGAL
April 19, 2026

TANDA KELIMA
April 18, 2026

