NILAI PENGUDUSAN

Firman Tuhan : Mazmur 15:1-5
“Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya.” (Mazm. 15:2)
Dunia yang berdosa ini akan merasa asing dengan yang namanya pengudusan. Masih mungkinkah dunia yang cemar semacam ini untuk dikuduskan atau disucikan? Ketika Lot memasuki kawasan Sodom (sekitar tahun 2100 – 1900 SM), mungkin dia berharap, melalui kehadirannya, kota itu dapat berubah dan bertobat dari dosanya. Namun harapan itu meleset, karena malah dia sendiri dan keluarganya nyaris terseret. Bahkan istrinya yang keburu jatuh cinta dengan Sodom, akhirnya lenyap (menjadi tiang garam). Apalagi dunia masa kini, masihkah ada harapan untuk mengalami pengudusan? “Pengudusan atau penyucian
(sanctification), dalam arti luas berarti tindakan Allah yang memisahkan seseorang atau sesuatu bagi penggunaan yang kudus. Penyucian ini bisa bersifat kedudukan (status), yaitu kedudukan orang Kristen di dalam Kristus; bisa bersifat pengalaman, yang dihasilkan oleh kuasa Roh Kudus di dalam kehidupan orang Kristen; atau bisa bersifat final, yaitu pengudusan akhir, ketika orang percaya itu menjadi sempurna di dalam sorga kelak.” Walvoord).
Daud, dalam mazmurnya ini, bicara soal kekudusan atau pengudusan. Ia mengajukan pertanyaan (ay.1) “Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Ini merupakan pertanyaan rohani yang juga bermakna, “siapa yang boleh mendekati dan beribadah di tempat kediaman-Nya? Kata “Kemah-Mu” rupanya merujuk pada bait Allah di Yerusalem dan “ “gunung-Mu” menunjuk pada kota Daud yaitu Yerusalem yang memang berada di ketinggian. “David pondered the matter of who may dwell in the Lord’s sanctuary (the tabernacle), located on the holy hill, that is Zion, the city of David (2 Sam 6:10-12, 17.” (Allen Ross). Kemudian dijawab dalam ayat 2-5, yaitu berlaku tidak bercela; mulai dari bersikap adil, berbicara jujur, tidak memfitnah, mengasihi teman, tidak menyalahkan (mencela) orang lain, memuliakan orang yang takut akan Tuhan, berpegang pada janji, tidak makan riba, menerima suap, sampai pada tidak melawan yang tak bersalah. Dalam konteks pelayanan Paulus, dia juga bicara soal pelayan yang tidak bercela, yang didukung rumah tangga yang baik (Tit. 1:6). Bila menghadapkan deretan kualifikasi itu ke masa kini, sangat jelas mungkin hanya sedikit orang yang memilikinya. Mengapa? Karena karakter berdosa sudah melekat begitu rapat dalam diri manusia. Masalah karakter memang sangat sulit diubah dalam kehidupan orang-orang masa kini. Hanya Roh Kudus yang sanggup mengubahnya, apabila seseorang terbuka dan berserah pada-Nya. Ketika kita juga mau datang di hadapan Tuhan, kita harus berperang dengan segala bentuk keinginan dosa yang mencoba menghalanginya. Kita harus terus menerus meminta Roh Kudus menyucikan kita, dan memberi kita kerinduan rohani yang semakin kuat (Gal.5:16). Tuhan Yesus sudah mengatakan, “Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah (Mat.5:8).” Sebagaimana kata lagu, ”Nearer my God to Thee” – kita terus makin dekat dan membangun persekutuan dengan Tuhan.
Inspirasi: Kesukaan orang percaya adalah, tatkala dapat mendekati Allah yang kudus dengan kehidupan yang kudus dan berkenan kepada-Nya.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

TOP SECRET
April 20, 2026

FIRMAN TUHAN TIDAK AKAN GAGAL
April 19, 2026

TANDA KELIMA
April 18, 2026

