NILAI PENGAMPUNAN

Firman Tuhan : Mazmur 32:1-11
“Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.” Maz. 32:5).
Dunia sering mendefinisikan sumber kebahagiaan dari sisi external resources (kekayaan, ketenaran dan kebolehan), tetapi Alkitab memberitahu sumbernya dari internal resource, dari dalam hati yang mengalami pengampunan dosa yang berasal dari Allah. Ini dialami oleh orang percaya yang mengasihi Tuhan. Siapakah dia?.Salah satunya Daud. Dia orang yang sungguh-sungguh merasakan nilai pengampunan itu. Bila merujuk pada kejatuhannya masa lalu, ia memang sangat menyesalinya (2 Sam.12:7-13). Dia mengakuinya dengan gamblang dalam Mazmur 32 ini. Apa yang dia katakan? “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi. Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu.”(ay. 1-2). Dalam terjemahan lain, kata “berbahagialah” disebut “diberkatilah – blessed.”
Memang benar! Orang yang merasa bersalah lalu diampuni, betapa senang hatinya. Tadinya tertekan (stressful), tidak bebas, penuh ketegangan, kehilangan damai, murung tak bercahaya, komunikasi stagnan, beralih menjadi dinamis, lega dan penuh sukacita. Daud sangat merasakan hal itu. Ketika ia mencoba menyimpan dosa dalam hatinya, jiwanya makin tertindih beban berat. Ketika ia berkata, “tulang-tulangku menjadi lesu”, berarti fisiknya juga sakit. Jikalau ada dosa yang tidak diakui, misalnya kebencian, itu sangat mempengaruhi kesehatan jasmaniah juga. Pengamsal menemukan bahwa hati yang gembira adalah obat (Ams. 17:22). Raja Saul, Herodes, Pilatus, Hitler, adalah contoh para pemimpin yang dikenal dunia, namun sayang, hatinya bermasalah. Di hatinya ada kebencian, dendam, kemarahan, bukan kegembiraan dan sukacita. Akhirnya kematiannya memprihatinkan. Saul mati karena bunuh diri, Herodes karena komplikasi penyakit parah, Pilatus mungkin bunuh diri, dan Hitler juga karena bunuh diri. Sebagai orang-orang yang berkuasa, mereka mungkin ‘kelihatan’ orang-orang berbahagia, tetapi bukan inner happy (kebahagiaan dari dalam), melainkan outer happy (kebahagiaan dari luar). Mungkin sebagai raja, Daud juga sering ‘digoda’, namun sejak dia sungguh-sungguh bertobat, dan mengalami kasih dan pengampunan Allah, dia terus membangun hubungan dengan Allah, sehingga hatinya penuh dengan sukacita dan puji-pujian bagi Allah (ay. 11). Ingat orang yang tersalib di sebelah kanan Yesus, ketika mendengar kata-kata pengampunan dan jaminan kekal dari mulut Yesus, tentu saja membuat hatinya sangat berbahagia (Luk. 23:42-43). Pengampunan itu telah mengubah ruang hatinya, yang tadinya redup menjadi cerah, persis seperti hati perempuan Samaria itu. Tatkala Yesus, Air Hidup itu menyegarkan hatinya, hidupnya bersinar di Samaria, sehingga kota itu pun diberkati (Yoh. 4:39-42). Kalau kita, apa yang paling membahagiakan kita?
Inspirasi: Pengampunan selalu dianggap aneh oleh dunia yang penuh kebencian, tetapi menjadi sesuatu yang ajaib, bagi orang yang dipenuhi dengan kasih.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

TOP SECRET
April 20, 2026

FIRMAN TUHAN TIDAK AKAN GAGAL
April 19, 2026

TANDA KELIMA
April 18, 2026

