MENYIKAPI KEKUATIRAN

Firman Tuhan : Filipi 4:2-9
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginan kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Fil 4:6)
“Ah! Bagi saya, kita tidak boleh mengatakan pada orang-orang, “jangan kuatir!” Namanya manusia, siapa yang tidak ada kekuatiran?” Lalu ada yang mengklarifikasi, ya memang benar semua manusia tak luput dari kekuatiran, tapi kan kita orang percaya, harus berbeda sikap. Kekuatiran itu memang sebuah fakta, karena itu memang ada. Tapi bagaimana kita menyikapinya. Katakanlah bahwa kekuatiran itu bersifat netral. Dari kata-kata seperti “Jangan kuatir” atau “serahkanlah” segala kekuatiranmu (1 Pet.5:7), jelas bahwa kekuatiran itu memang ada, tapi “jangan” meladeninya. “Serahkanlah” artinya jangan tanggung sendiri.
Dalam Filipi 4:6-7 ini, secara khusus Paulus mengingatkan jemaat Filipi untuk berdoa, daripada kuatir. Berdoa dengan penuh ucapan syukur menuntut kepercayaan pada Allah. “Dalam bagian ini, Paulus mencatat ada empat kata yang menunjukkan kesatuan orang percaya dengan Allah. Pertama adalah doa, sebagai bentuk pendekatan orang percaya kepada Allah. Kedua, permohonan atau petisi. Ini merujuk pada permintaan agar Tuhan menjawab doa untuk suatu kebutuhan spesifik. Ketiga, ucapan syukur, yang menunjukkan sikap hati, yang harus menyertai permohonan itu. Terakhir, adalah permintaan khusus untuk hal-hal tertentu.” (Lightner). Perhatikan bahwa peringatan untuk “jangan kuatir” ini, diarahkan pada orang percaya, bukan pada orang duniawi, yang tidak mengerti perkara-perkara rohani (1 Kor.2:14). Kekuatiran sangat berhubungan dengan pikiran. Agar tidak terbenam dalam kekuatiran, maka pikiran itu harus dikendalikan oleh damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal (God’s peace garrison the hearts and minds). “Jika kita berdoa, sebagaimana seharusnya berdoa, dan berpikir bagaimana seharusnya berpikir, maka maka damai sejahtera dari Tuhan akan menjaga kita. Dan Tuhan sumber damai sejahtera akan menyertai kita.” (Wiersbe).
Apakah masih ada orang Kristen, bahkan hamba Tuhan, yang ‘dikendalikan’ oleh kekuatiran dan kecemasan, sehingga hidup mereka sering mengalami tekanan batiniah? Kenyataan menunjukkan masih banyak yang demikian. Setiap hari pikirannya dipenuhi dengan ketakutan dan ketidakpercayaan. Apakah itu menyangkut masa depan kesehatan, keuangan, pekerjaan, pendidikan, pergaulan anak-anak, atau hari tua? Sangat mungkin. Tetapi ingatlah bahwa Yesus mengemukakan argumen yang sangat fundamental untuk melawan kekuatiran (kekhawatiran). “Kekhawatiran hanya ada pada orang yang belum mengenal Allah. Kekhawatiran itu tidak perlu, tidak berguna, bahkan merusak (Barclay). Ingatlah bahwa, memikirkan atau merencanakan hari esok, berbeda dengan “menguatirkan’ hari esok. Itulah sebabnya, pikirkanlah apa yang patut dipikirkan (Fil. 4:8).
Inspirasi: Karena kekuatiran, masih banyak orang Kristen mengalami penderitaan mental dan batiniah, bahkan fisik, yang seharusnya itu tidak perlu terjadi.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

AMPUNILAH
Maret 31, 2026

SEHARUSNYA ANDA MALU
Maret 30, 2026

“JANGAN SOMBONG”
Maret 29, 2026

