MELAYANI TUHAN TANPA BERSUNGUT

MELAYANI TUHAN TANPA BERSUNGUT

Ayat bacaan: Filipi 2:14–16

“Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tidak bercacat dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” (Filipi 2:14–15, TB2)

Pernahkah kita menyadari bahwa mengeluh adalah salah satu hal yang paling mudah dilakukan? Ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan, kita bersungut-sungut. Tetapi Paulus berkata dalam Filipi 2:14–15, “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan…ˮ Mengapa? Karena di tengah dunia yang penuh keluhan dan konflik, sikap hidup kita dapat membuat kita “bercahaya seperti bintang-bintang di dunia.ˮ

Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus dari balik jeruji penjara di Roma. Meskipun ruang geraknya sangat terbatas dan ancaman penderitaan mengintai, Paulus tidak membiarkan kecemasan atau keluhannya menguasai pelayanannya. Sebaliknya, ia memberikan arahan teologis yang mendasar tentang cara hidup yang memuliakan Allah. Kata bersungut-sungut menggambarkan bisikan ketidakpuasan atau gerutuan tersembunyi terhadap kehendak Allah, seperti yang dahulu dilakukan oleh bangsa Israel di padang gurun. Sedangkan berbantah-bantahan merujuk pada perdebatan yang merusak persaudaraan dan melumpuhkan misi pelayanan.

Paulus mengingatkan bahwa identitas sebagai anak-anak Allah tercermin dari ketaatan yang utuh dan kerelaan hati. Di tengah budaya dunia yang penuh keluhan, manipulasi, dan egoisme, gaya hidup orang percaya harus tampil kontras. Paulus menggunakan gambaran bintang-bintang di dunia untuk melukiskan bagaimana kesaksian hidup kita dapat memancarkan kebenaran Kristus di tengah kegelapan moral. Bintang tidak menghasilkan cahayanya sendiri, melainkan memantulkan kemuliaan Allah. Saat kita tekun melayani, baik dalam penginjilan, pemuridan, maupun doa, tanpa mengeluh atas beban pelayanan yang berat, kita sedang memegang teguh firman kehidupan. Sikap hati ini membuktikan bahwa Injil memiliki kuasa nyata untuk mengubah cara kita berpikir dan bertindak.

Ubah setiap keluhan atas tantangan pelayanan menjadi doa ucapan syukur, lalu fokus untuk memberikan dampak nyata bagi orang-orang di sekitar Saudara. Berhentilah memperdebatkan kesulitan yang dihadapi dan mulailah mengambil langkah konkret dalam penginjilan serta pemuridan dengan hati yang tulus.

Inspirasi: Cahaya Kristus memancar paling terang bukan saat keadaan mudah, melainkan saat kita melayani tanpa mengeluh.

(LPMI/Tegoeh Santoso)

 

share

Recommended Posts