KOMITMENKU CEPAT BERUBAH

KOMITMENKU CEPAT BERUBAH

Firman Tuhan    : Wahyu 2:1-7

“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula” Wahyu 2:4

 

Dalam berbagai pelatihan penginjilan di desa maupun di kota, kita sering menyaksikan moment yang mengharukan. Di akhir training, peserta diajak membuat komitmen: menginjili 4 –8 orang per bulan, memimpin 1 kelompok pemuridan, atau mengadakan penelaahan Alkitab (PA) pribadi minimal sebulan sekali. Komitmen itu bahkan dituliskan di secarik kertas sebagai tanda keseriusan. Namun realitas pelayanan menunjukkan bahwa komitmen tersebut sering berubah cepat. Ada yang bertahan satu bulan, dua bulan, tiga bulan, bahkan paling lama enam hingga sembilan bulan. Setelah itu, semangat mulai pudar.

Pengamatan serupa terlihat dalam sebuah jemaat yang lahir dari pelayanan LPMI. Pada tiga hingga empat tahun pertama, pendampingan intensif menolong jemaat bertumbuh. Beberapa anggota aktif bersaksi dan membangun kelompok pemuridan. Tetapi seiring waktu, fokus pelayanan bergeser. Kekristenan kemudian dipahami sebatas hadir ibadah Minggu, ibadah keluarga, latihan paduan suara, atau keterlibatan dalam panitia Natal dan Paskah. Aktivitas gerejawi tetap berjalan, namun api penginjilan dan pemuridan mulai redup.

Situasi ini mengingatkan kita pada teguran Tuhan kepada jemaat di Efesus dalam Kitab Wahyu 2:1–7. Jemaat Efesus sebenarnya memiliki banyak kelebihan: kerja keras, ketekunan, dan kemampuan menolak ajaran palsu. Secara doktrinal mereka benar, secara pelayanan mereka aktif. Namun Tuhan menegur satu hal mendasar: mereka telah meninggalkan kasih yang semula. Artinya, kegiatan tetap ada, tetapi motivasi hati berubah. Pelayanan berjalan tanpa kehangatan relasi dengan Kristus. Komitmen yang dahulu lahir dari kasih, perlahan menjadi rutinitas.

Teguran kepada jemaat di Efesus menyingkap akar dari komitmen yang cepat berubah. Komitmen yang hanya didorong suasana emosional training atau dorongan kelompok cenderung tidak bertahan lama. Langkah praktis untuk mencegah komitmen yang cepat berubah adalah menyediakan pendampingan yang berkelanjutan. Komitmen rohani tidak cukup dibangun melalui satu kali pelatihan, tetapi perlu dirawat melalui relasi, perhatian, dan evaluasi bersama. Karena itu, follow up pelayanan minimal dua sampai tiga kali dalam setahun menjadi sangat penting.

Karena itu, Tuhan memberi tiga langkah: ingatlah dari mana engkau jatuh, bertobatlah, dan lakukan kembali pekerjaan semula. Ini adalah panggilan evaluasi rohani. Kita diajak mengingat moment ketika hati kita berkobar untuk bersaksi, bertobat dari sikap suam-suam kuku, dan kembali melangkah dalam penginjilan serta pemuridan.

 

Inspirasi: Komitmen rohani tidak cukup dibangun melalui satu kali pelatihan, tetapi perlu dirawat melalui relasi, perhatian, dan evaluasi bersama.

LPMI/Yunus Siang

share

Recommended Posts