GETSEMANI: KEJUJURAN YANG TAAT

Firman Tuhan : Matius 26:38
“lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”
Yesus adalah 100% Allah, Allah yang Mahatahu. Ia tahu akhir hidup-Nya dan penderitaan yang akan dialami-Nya. Ia tahu bahwa Ia akan menanggung banyak penderitaan fisik (Luk 9: 18-22), dan juga penderitaan jiwanya, Ia akan diolokolok, mungkin beberapa oleh mereka yang telah mendapat mukjizat-Nya. Diludahi dan disesah, Ia sungguh dipermalukan untuk alasan politik dan kejahatan hati manusia (Luk 18:31-33).
Yesus adalah 100% manusia. Dalam kemanusiaan-Nya, Ia merasakan ketakutan yang nyata. Ia tidak menutupinya, tidak berpura-pura kuat. Ia membuka kesedihan-Nya di hadapan murid-murid-Nya — kesedihan yang begitu dalam, bahkan sampai seperti mau mati rasanya. Dan di tengah pergumulan itu, kesedihan-Nya bertambah, Ia tidak menemukan pengertian dari orang-orang terdekat-Nya. Murid-murid-Nya tertidur. Ia tidak mendapatkan validasi — dan memang itu bukan yang Ia cari. Ia memang berbagi perasaan-Nya kepada manusia, namun membawa segala emosi-Nya di hadapan Bapa di taman Getsemani.
Coba bayangkan, jika kita ada di posisi-Nya malam itu. Ketika jiwa diliputi kesedihan yang begitu berat, bagaimana kita akan merespons? Apa yang akan kita lakukan saat perasaan terasa begitu menekan?
Dalam kelemahan tubuh-Nya, Yesus memilih untuk berdoa. Ia jujur dengan seluruh emosi-Nya, namun tetap tunduk pada kehendak Bapa. Inilah teladan yang Ia berikan—untuk berjaga-jaga dan berdoa (ay. 40).
Kita pun dipanggil untuk berani jujur,menyebutkan satu per satu rasa yang bergejolak di dalam hati, dihadapan diri sendiri, sesama, dan terlebih di hadapan Allah. Bukan untuk mencari dimengerti manusia atau berharap dapat menawar kehendak Allah, namun kejujuran emosi dan membagikannya kepada sesama dan Allah, itu berarti kita mengenali diri kita dan menunjukkan bahwa emosi itu tidak mengendalikan kita. Dan dengan membawanya kepada Allah, kita belajar untuk menyelaraskan respons kita, termasuk emosi kita, sesuai dengan kehendak Allah. Saat emosi itu kita bawa kepada-Nya, perlahan hati kita ditata. Disanalah emosi kita tidak lagi liar, melainkan emosi kita semakin dikuduskan.
Sebab bayangkan, apa yang akan terjadi jika Yesus memilih mengikuti perasaan-Nya, dan bukan kehendak Bapa?
Inspirasi: Iman sejati bukan tanpa emosi—justru emosi yang telah disentuh dan diarahkan oleh Allah
LPMI/Suek Herwidya Estherline
Recommended Posts

TOP SECRET
April 20, 2026

FIRMAN TUHAN TIDAK AKAN GAGAL
April 19, 2026

TANDA KELIMA
April 18, 2026

