ALLAH MEMAKAI ORANG BIASA

ALLAH MEMAKAI ORANG BIASA

Ayat bacaan: 1 Korintus 1:26–31

“Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” (1 Korintus 1: 26)

Dalam surat ini Paulus membongkar kesombongan manusia yang menjadikan status, kecerdasan, kekuasaan, dan prestasi sebagai dasar kemuliaan di hadapan Allah.

Ketika “Allah memilih (exelexato) yang dianggap bodoh oleh dunia…ˮ, maka Allah adalah subjek, sedangkan objeknya adalah “orang-orang/hal-hal yang dianggap bodoh oleh dunia.ˮ Paulus berbicara tentang penilaian dunia, bukan diagnosis bahwa orang-orang tersebut bodoh. Dokter, guru, insinyur, pengusaha, programmer, seniman, birokrat, pekerja sosial, dan profesional lainnya tidak perlu menjadi kurang pintar agar dipakai oleh Allah. Sebaliknya, keahlian bisa menjadi alat Allah ketika tidak menjadi kesombongan. Allah tidak memakai orang pintar, berkuasa, atau terpandang, tetapi “tidak banyak dari mereka yang rendah hati.ˮ Kata banyak (polloi) diulang 3 kali bukan berarti oudeis/tidak seorang pun (ay 26-28).

Paulus tidak sedang merendahkan orang biasa, profesional, pendidik, dll. Ayat 29 menjelaskan tujuan Allah. Dia bekerja sedemikian rupa sehingga manusia tidak memusatkan kemuliaan pada dirinya sendiri , melainkan pada Kristus (ay. 30-31).

Allah memakai orang yang menyadari keterbatasannya dan bersandar pada Kristus, supaya tidak memegahkan diri atas keberhasilannya, melainkan menjadi saksi-Nya. Jadi , bukan karena hebat, kita dipakai Tuhan, tetapi karena kuasa Kristus. Pencapaian, jabatan, personal branding, popularitas, gelar, networking, dan pengakuan sosial itu tidak salah, asalkan dikembangkan dan dipersembahkan bagi kemuliaan nama-Nya. Talenta yang Tuhan percayakan harus dipertanggungjawabkan kepada Allah. Demikian pula, nilai hidup tidak berhenti ketika jabatan atau puncak karier berakhir. Kita harus setia melakukan hal-hal yang berharga dalam pimpinan-Nya dan mewariskan nilai-nilai rohani kepada generasi selanjutnya. Usia makin lanjut dan jabatan boleh usai, tetapi panggilan untuk menjadi berkat tidak pernah pensiun.

Inspirasi: Allah tidak mencari orang hebat, tetapi pribadi yang rendah hati dan bersedia dipakai-Nya. Orang biasa di tangan Kristus dapat menjadi alat yang luar biasa bagi kemuliaan-Nya.

Penulis: RM Wahju Djatikoesoemo

share

Recommended Posts