KESETIAAN SAMPAI AKHIR

Ayat bacaan: 2 Timotius 4: 6-8
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4: 7)
Seseorang memasuki usia tengah baya merenung dan berkata:ˮApa yang sudah saya capai? Apakah saya masih berguna? Apa yang akan saya tinggalkan? Dan apa yang harus saya lakukan di sisa hidup ini?
Surat kepada Timotius pada bagian ini memuat prinsip kebenaran seorang pelayan.
“Aku sedang dicurahkan…ˮ (ay. 6) artinya hidup Paulus seperti anggur persembahan yang sedang dituangkan sampai habis. Manusia bukan “membeliˮ perkenanan Allah melalui kesetiaan. Kesetiaan sampai akhir adalah rasa syukur atas anugerah dan panggilan Allah. “… dan saat kepergianku (kairos tēs analyseōs) sudah dekat. Kairos bukan waktu kronologis, melainkan saat, kesempatan, atau momen yang menentukan. Analyseōs berarti keberangkatan, pelepasan, dan perpindahan menuju Tuhan, yaitu tujuan dari persembahan hidup.
3 metafora refleksi: mengakhiri pertandingan (egonisma– perjuangan), menyelesaikan perlombaan (dromon teteleka: sesuai lintasannya), dan memelihara iman (tetērēka: menjaga, memelihara, mempertahankan, menaati). Iman yang dewasa adalah iman yang tetap berpegang pada Tuhan setelah melewati banyak musim kehidupan (ay. 7).
Struktur penutup ini sangat indah: Paulus bergerak dari hidup yang sedang dicurahkan—perjuangan yang telah diselesaikan—iman yang dipelihara—mahkota yang menanti (ay. 8).
Ketika masih muda, mungkin kita bertanya, “Apa yang dapat saya raih?ˮ Memasuki paruh baya kita merenung, “Apa yang telah saya capai?ˮ Semakin dekat dengan akhir perjalanan, ada pertanyaan paling penting: “Apakah saya tetap setia kepada Tuhan sampai akhir?ˮ Tuhan tidak meminta kita meninggalkan dunia dengan daftar pencapaian yang panjang, melainkan dengan iman yang tetap terpelihara. Terus berlari di lintasan kita, fokus pada Allah yang berdaulat sepenuhnya, dan tidak perlu membandingkan diri dengan lintasan dan pencapaian orang lain.
Inspirasi: Persembahan terbaik bukanlah hidup yang paling gemilang di mata manusia, melainkan hidup yang terus dipersembahkan kepada Tuhan sampai garis akhir.
Penulis: RM Wahju Djatikoesoemo
Recommended Posts

BAGI DIALAH KEMULIAAN
Oktober 31, 2026

BERSUKACITALAH DALAM PENUAIAN
Oktober 30, 2026

DIPILIH UNTUK MENJADI BERKAT BAGI BANGSA
Oktober 28, 2026

