DAMAI SEJATI ANAK-ANAK ALLAH

DAMAI SEJATI ANAK-ANAK ALLAH

Ayat bacaan: Matius 5: 9

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”

Banyak dari kita terjebak mengartikan kedamaian hanya sebagai ketiadaan kegaduhan. Selama tidak ada adu argumen, tidak ada meja yang dipukul, dan permukaan tampak tenang, kita buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya baik-baik saja. Itulah yang disebut fake peace — kedamaian semu. John Galtung mendefinisikan kondisi ini sebagai kedamaian negatif—situasi yang hanya tampak tenang karena ketiadaan konflik fisik atau percekcokan yang terbuka. Padahal, kita sering kali sengaja memilih menyangkal masalah dan menghindari konfrontasi demi kenyamanan sesaat, daripada berani duduk bersama untuk mengurai benang kusut yang sebenarnya. Pseudo-Harmonization (keharmonisan palsu) membentuk norma tak tertulis yang menyesakkan: menyuarakan kebenaran atau memberikan kritik membangun dianggap sebagai “pembawa kegaduhan.”Kita terbiasa mengangguk di depan, namun menolak di belakang. Kita memilih membisu, berpura-pura tenang, meski batin menyimpan luka dan kekecewaan.

Bukan jenis damai seperti ini yang dibawa oleh anak-anak Allah dalam pembacaan kita hari ini. Anak-anak Allah adalah mereka yang bekerja sama dengan Kristus, yang datang ke dunia untuk melenyapkan perseteruan, menabur kasih, merawat ketenangan, dan menghadirkan damai sejati. Matthew Henry mengatakan, “Membawa damai adakalanya merupakan pelayanan yang tidak dihargai dengan rasa terima kasihˮ. Mereka tidak mencari pengakuan manusia, mau menyuarakan kebenaran, dan memulihkan relasi. Sebab membawa damai bukanlah menghindari konflik, melainkan menghadirkan rekonsiliasi—seperti Kristus yang memperdamaikan kita dengan Bapa. Ingatlah, jalannya tidak mudah, penderitaan berujung pada kematian-Nya di kayu salib.

Bukan panggilan yang sederhana, karena syarat untuk membawa Kristus adalah mematikan diri. Namun, di baliknya ada pujian yang agung: saudara dan saya akan disebut sebagai anak-anak Allah. Apakah kita telah membawa damai, atau justru memancing di air keruh ketika konflik terjadi? Apakah kita sungguh mencari rekonsiliasi, atau justru memilih diam agar konflik tidak mengganggu kenyamanan kita?

Inspirasi: Damai yang sejati bukan berasal dari ketiadaan masalah, melainkan dari kehadiran Allah.- Alexander Maclaren.

Penulis: Herwidya Estherline

share

Recommended Posts