NILAI PEMBENARAN

NILAI PEMBENARAN

Firman Tuhan : Mazmur 26:1-12 

“Berilah keadilan kepadaku, sebab aku telah hidup dalam ketulusan; kepada Tuhan aku percaya dengan tidak ragu-ragu.” (Maz.26:1)

   Dunia akan tertawa sinis, bila mendengar bahwa Allah membenarkan orang berdosa. Bagi mereka, bagaimana mungkin itu terjadi? Yang bersalah, ya bersalah, yang benar, ya benar! Tidak ada sistem pembenaran begitu saja. Itulah pikiran orang yang tidak mengerti kasih dan rencana Allah bagi orang berdosa. Mereka tidak sanggup menyelami tindakan Allah berdasarkan kedaulatan-Nya, yang melebihi pikiran dan pertimbangan hukum moral dan etika manusia. Kalau pikiran mereka benar, maka bunyi Roma 6:23, hanya akan sebagai berikut, “Sebab upah dosa ialah maut.” Titik! Tidak ada pernyataan lanjutan, “tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Mereka tidak mengerti ada karunia Allah di dalamnya.

   Ada tiga kualifikasi yang menunjukkan nilai pembenaran dalam Mazmur ini. Dari kata “berilah keadilan” itu bermakna bahwa keadilan (pembenaran) itu adalah pemberian Allah. “hidup dalam ketulusan” menunjukkan sikap hidup yang murni dalam ketaatan, dan “kepada Tuhan aku percaya”, menunjukkan adanya iman kepada Allah (cf. Rom 5:1-2). Di sinilah terlihat adanya nilai pembenaran itu sendiri, dan pembenaran itu adalah inisiatif dari Allah, melalui pengorbanan Kristus di kayu salib (ay. 6). Pembenaran itu telah menyebabkan orang berdosa masih beroleh pengharapan, apabila mereka menjadi percaya. Semua orang percaya, baik sebelum dan sesudah Kristus datang ke dalam dunia, tercakup dalam karya pembenaran di dalam Kristus itu. John Walvoord menjelaskan, “Dalam theologia, pembenaran adalah tindakan yang bersifat hukum dari Allah, yang menyatakan seseorang “benar” dengan memberikan kepada orang itu. Hal ini bersifat hukum saja, bukan bersifat pengalaman, dan semua orang percaya di dalam Kristus secara sama rata dibenarkan.” Status “orang benar” dalam perspektif alkitabiah (biblical perspective), memang sangat berbeda dengan istilah “orang baik.” Orang baik selalu merujuk pada kualitas moral, dan inilah yang menjadi ukuran agama-agama, sebagai kualifikasi untuk keselamatan. Paulus dalam surat Roma, memaparkan secara dalam tentang karya pembenaran (Roma 411), tetapi juga menekankan pentingnya “hidup benar” dari orang yang dibenarkan itu (Roma 12-16). Hidup benar dalam konteks berjemaat, dalam persekutuan dan pelayanan, dalam bermasyarakat dan bernegara. Selalu berusaha tampil eksklusif dalam kehidupan rohani (spiritual), namun tetap inklusif dalam kehidupan sosial, karena semua yang percaya memang dipanggil ke dalam dunia, untuk menjadi saksi -Nya. Hidup benar untuk memberi pengaruh, bukan terpengaruh, oleh sistem dunia yang kontras dengan kebenaran. Apakah kita sudah dibenarkan? Kalau ya, apakah kita sudah hidup benar?

Inspirasi: Dunia tidak mengerti apa itu doktrin pembenaran, tetapi mereka dapat melihat nilainya dari kehidupan orang Kristen, sebagai orang yang telah dibenarkan di dalam Kristus.

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts