TIADA MAAF BAGIMU

TIADA MAAF BAGIMU

Firman Tuhan   : Yesaya 22:1-14

Tetapi TUHAN semesta alam menyatakan dirinya dan berfirman kepadaku: “Sungguh, kesalahanmu ini tidak akan diampuni, sampai kamu mati,” firman Tuhan, TUHAN semesta alam. (Yesaya 22:14)

 

Seringkali saat kita diperlakukan buruk oleh orang lain, yang membuat harga diri kita diinjak-injak dan membuat kita hancur pastinya kita sangat sulit untuk mengampuni, kita bahkan akan berkata pada diri sendiri “sudah cukup, dan tiada maaf bagimu”.

Saya dapat membayangkan betapa kesal, kecewa, marah dan sakit hatiNya Tuhan, saat mengatakan kalimat “Sungguh, kesalahanmu ini tidak diampuni, sampai kamu mati.” Firman ini di tujukan kepada Bangsa Israel, bangsa yang terpilih, bangsa yang dikasihi oleh Tuhan sendiri. Sebenarnya apa yang membuat Tuhan sampai mengatakan demikian?

Tuhan memberitahukan firmanNya lewat nabi Yesaya tentang kehancuran Yerusalem dan malapetaka yang akan menimpa mereka dikarenakan mereka tidak mau berbalik pada Tuhan. Lewat firmanNya Tuhan juga memberikan mereka kesempatan untuk bertobat, berbalik dari segala tingkah laku mereka yang jahat, namun bangsa Israel tidak mengindahkan Firman Tuhan, mereka justru terus hidup dalam dosa, mengikuti kesenangan mereka, dan hidup dalam hawa nafsu duniawi (ayat 13).

Kita hidup di zaman anugerah, dimana kita hidup di dalam Kristus yang telah mengampuni dan menyucikan kita dari dosa, bukan berarti kita menggunakan anugerah Tuhan untuk melakukan dosa. Tuhan memberi banyak kesempatan kepada kita untuk hidup dalam kehendakNya dengan memakai hamba Tuhan, orang lain dan keadaan hidup kita untuk menyadarkan kita supaya bertobat, namun jika anugerah Tuhan melalui firmanNya tidak kita indahkan maka kita akan hidup dalam dosa, kita menjadi murtad, kita tidak akan mengalami hidup yang berkelimpahan, kita akan hidup di dalam kekacauan, dan Allah tidak akan memakai kita untuk menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa. Bahkan sampai kita mati pun Tuhan katakan tiada maaf bagimu, jika hatimu tidak berbalik pada Tuhan.

LPMI/Juniwati Nubatonis 

share

Recommended Posts