SUSU DIBALAS TUBA

SUSU DIBALAS TUBA

Firman Tuhan : 1 Samuel 23: 1-13 

Kemudian bertanyalah Daud: “Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila  itukah aku dengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?” Firman TUHAN: “Akan  mereka serahkan.” (I Samuel 23:12) 

Air susu dibalas air tuba, adalah peribahasa hasil rangkuman empiris dari  fenomena yang banyak terulang, sehingga akhirnya terkonsep dalam untaian kata.  Tentunya gejala ini bukan hanya bersifat lokal namun bisa dimanapun dan  kapanpun di berbagai daerah di Indonesia bahkan dunia.  

Daud adalah pribadi yang baik serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.  Nasionalisme-nya tidak luntur meskipun dalam situasi pelarian. Saat menghindari  kejaran Saul dia berperang menyelamatkan kota Kehila yang diserbu bangsa Filistin.  Kehila sendiri adalah bagian dari suku Yehuda (Yosua 15: 44) jadi adalah suku dari  keluarga besar Daud sendiri.  

Dahulu kala di jaman Hakim-hakim, suku Yehuda juga menyerahkan Simson  pahlawan Israel kepada bangsa Filistin. Puluhan tahun selanjutnya orang Yehuda di  Kehila menyerahkan Daud kepada raja Saul yang bengis dan psikopat. Adalah  tragis dan tidak tahu berterimakasih bahwa setelah dibebaskan dari serbuan Filistin  (ay 1-5) mereka mengkhianati Daud, saudara satu suku dan baru saja menolong  mereka, namun sedang menderita dan terlunta-lunta dikejar-kejar Saul. Namun  Alkitab mencatat bahwa orang baik dan benar itu dikhianati dan diperlakukan tidak  layak. Allah sendiri memberi konfirmasi bahwa Kehila pasti mengkhianati Daud (ay  12).  

Apakah jaman sekarang tidak ada pengkhianat? Pasti ada, dan itu juga bisa  muncul di sekitar kita. Dunia kerja, lingkungan sosial, bahkan di lingkungan  pelayanan gerejawi. Waspadalah, bahkan di sekeliling kita siapapun mereka dan  apapun profesinya. Marilah kita meminta kepekaan dari Tuhan untuk mengenali  kejahatan, kecurangan, dan ketidakadilan. Jika Tuhan tidak berfirman langsung  (audible) seperti jaman Daud bukan berarti Dia tidak menuntun kita. Saat ini rekam  jejak seseorang itu bisa tercatat di berbagai platform termasuk digital. Kita harus  peka terhadap kejahatan, kecurangan, dan amoralitas lainnya agar kehidupan  berbangsa kita juga makin bermartabat. 

Inspirasi: Di setiap masa ada pendusta dan pengkhianat, namun pembelaan,  penghiburan, dan hikmat Tuhan tidak pernah berkurang.  

 

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd. 

share

Recommended Posts